DPRD Kotim Dorong Kebijakan Adaptif Berbasis Prakiraan Cuaca
DPRD Kotim mendorong pemerintah daerah mengadaptasi kebijakan bencana berbasis data BMKG untuk antisipasi dampak El Nino dan perubahan musim.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 11.41 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - DPRD Kotawaringin Timur menekankan pentingnya menerapkan kebijakan responsif terhadap ancaman bencana hidrometeorologi dengan memanfaatkan prakiraan cuaca dari BMKG sebagai dasar pengambilan keputusan. Sekretaris Komisi II, Muhammad Kurniawan Anwar, menegaskan bahwa data cuaca tidak boleh hanya menjadi informasi sekadar dilaporkan, melainkan harus dijadikan acuan dalam perencanaan kesiapsiagaan dan penyaluran bantuan di lapangan.
Berdasarkan proyeksi BMKG, intensitas El Nino pada 2026 diprediksi mencapai tingkat sangat kuat dan diperkirakan berlangsung hingga awal 2027. Musim kemarau di Kalimantan Tengah diproyeksikan berlangsung dari Agustus hingga September 2026 dengan durasi sekitar lima hingga enam bulan. Pada bulan September, curah hujan di sebagian besar wilayah diperkirakan hanya berkisar antara 0 hingga 100 milimeter, menandakan kondisi kekeringan yang masih mengancam.
Kurniawan menekankan bahwa kondisi ini memerlukan kesiapan berkelanjutan dari pemerintah daerah, terutama dalam aspek distribusi air bersih, pemadaman karhutla, penempatan personel, hingga perlindungan lahan pertanian. Ia menyoroti bahwa keterbatasan air harus diantisipasi agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, khususnya di wilayah rawan kekeringan.
Prakiraan BMKG juga menunjukkan awal musim hujan 2026/2027 akan dimulai secara bertahap mulai dasarian kedua Oktober hingga dasarian ketiga November, dengan puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember 2026 hingga Januari 2027. Kondisi ini menuntut perubahan pola penanganan bencana dari responsif ke adaptif, agar pemerintah tidak hanya fokus pada kekeringan dan karhutla, tetapi juga siap menghadapi potensi banjir dan tanah longsor akibat curah hujan tinggi.
Dengan demikian, Kurniawan menegaskan bahwa data dan prakiraan BMKG harus menjadi fondasi utama dalam perencanaan program, alokasi sumber daya, serta penempatan sumber daya manusia dan infrastruktur. Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan yang berbasis data akan lebih efektif dalam melindungi masyarakat dan menjaga ketahanan sektor pertanian di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Pelajari Skema Suksesnya
Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan campuran solar B50, memicu minat belajar dari Jepang hingga negara Eropa terkait implementasi dan regulasinya.
9 September 2026

48 Jam Listrik Padam, Warga Gambia Aksi Massal Tuntut Presiden Mundur
Pemadaman listrik berkepanjangan selama 48 jam di Gambia memicu unjuk rasa besar-besaran di Banjul dan daerah lain, dengan massa menuntut presiden Adama Barrow mundur, sementara pihak berwenang mengaku penyebabnya adalah lonjakan beban dan gangguan teknis.
9 September 2026

Warga Bantaran Rel Senen Diberi Hunian Sementara oleh Pemerintah
Ratusan warga eks bantaran rel Senen kini tinggal di hunian sementara yang disediakan pemerintah, menandai realisasi program relokasi dan penataan kawasan.
9 September 2026

Pemerintah Siapkan Rp17 T untuk Bansos Beras Hingga Akhir 2026
Pemerintah menyiapkan anggaran Rp17 triliun untuk penyaluran bantuan beras 30 kg per keluarga penerima hingga akhir 2026, dengan distribusi secara rutin dan terkonsentrasi.
9 September 2026
Berita Lainnya

Abu Vulkanik Anak Krakatau Picu Iritasi Kulit, Ini Penjelasannya
Rabu, 9 September 2026, 07.45 WITA

Dua Masker Lebih Efektif? Ini Penjelasan Dokter Paru
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Perlindungan Anabul Saat Hujan Abu Vulkanik
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Lima Langkah Tangani Paparan Abu Vulkanik Secara Aman
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

Paparan Abu Vulkanik dan Risiko Silikosis, Ini Penjelasan Ahli
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

PAG Disejajarkan Singapura sebagai Pusat LNG Asia
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Bandara Soekarno-Hatta dan Lokasi Lain Segera Beroperasi Kembali
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Data Ekonomi India Dikritik, Mantan Pejabat Sebut Manipulasi Sistemik
Rabu, 9 September 2026, 07.34 WITA


