Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Eks Pejabat Israel Kecam Kekerasan di Tepi Barat Sebagai Pembersihan Etnis

Mantan komandan militer dan pejabat keamanan Israel mengungkapkan keprihatinan mendalam atas eskalasi kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat, menyebutnya sebagai pembersihan etnis yang didukung kebijakan pemerintah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 04.53 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Eks Pejabat Israel Kecam Kekerasan di Tepi Barat Sebagai Pembersihan Etnis
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sejumlah mantan perwira tinggi dan pejabat keamanan Israel mengungkapkan kekhawatiran serius terhadap tren kekerasan yang semakin meluas terhadap warga sipil Palestina di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Dalam kunjungan langsung ke komunitas setempat, mereka mendokumentasikan serangan terhadap petani, penggembala, serta penghancuran rumah dan infrastruktur milik warga Palestina. Beberapa tokoh menilai tindakan tersebut bukan sekadar bentuk kekerasan biasa, melainkan bagian dari upaya sistematis untuk mengusir penduduk asli dari tanah mereka.

Ephraim Sneh, pensiunan Brigadir Jenderal dan mantan Menteri Kesehatan Israel, menyatakan secara tegas bahwa fenomena yang terjadi saat ini merupakan bentuk pembersihan etnis. “Ini bukan soal konflik, ini adalah upaya mengosongkan wilayah dari penduduk asli,” ujarnya. Sementara itu, Eyal Ben Reuven, mantan Komandan Pasukan Darat Israel, menekankan bahwa ancaman terbesar bagi stabilitas Israel bukan berasal dari negara-negara tetangga, melainkan dari tindakan ekstrem yang dilakukan oleh pemukim bersenjata dan dukungan struktural dari pemerintah.

Di Desa Burin, petani Bashar Eid menceritakan pengalaman traumatis akibat serangan pemukim, yang menyebabkan cedera permanen dan kehilangan akses ke lahan pertaniannya. Di Lembah Yordania, kondisi serupa terjadi, dengan sebagian besar warga Badui memilih mengungsi karena serangan malam hari yang tak henti-hentinya. Mohammad Khalil, warga setempat, mengungkapkan ketakutan yang mendalam: “Kami tak bisa tidur. Jika mereka datang saat kita tertidur, tak ada yang selamat.”

Lebih dari 200 tokoh dari latar belakang militer dan keamanan Israel, termasuk dua mantan perdana menteri dan puluhan jenderal pensiun, menandatangani petisi yang mengecam “terorisme Yahudi” dan “pembersihan etnis” di Tepi Barat. Mereka menyoroti peran pemerintah dalam mendukung pemukiman ilegal dan menyediakan infrastruktur bagi kelompok tersebut. Beberapa bahkan menuduh sebagian tentara aktif ikut serta dalam serangan terhadap warga sipil, sementara sebagian lainnya hanya diam saat kekerasan terjadi.

Mantan Menteri Pertahanan Moshe Ya’alon menyoroti ideologi supremasi Yahudi sebagai akar dari kekerasan yang kini berkembang, menilainya sebagai “Mein Kampf versi terbalik”. Sementara Asaf Agmon, pensiunan Jenderal Angkatan Udara, memperingatkan bahwa masyarakat yang membiarkan kekerasan sistematis terjadi akan mengalami kerusakan moral dan sosial yang tak terelakkan. Data PBB yang dikutip menunjukkan jumlah korban luka meningkat drastis—dari satu orang setiap tiga hari pada 2020 menjadi lebih dari tiga orang per hari pada 2026—dengan lebih dari 3.200 warga Palestina mengungsi akibat serangan tersebut, angka dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya