Eks Pejabat Israel Kecam Kekerasan di Tepi Barat Sebagai Pembersihan Etnis
Mantan komandan militer dan pejabat keamanan Israel mengungkapkan keprihatinan mendalam atas eskalasi kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat, menyebutnya sebagai pembersihan etnis yang didukung kebijakan pemerintah.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 04.53 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Sejumlah mantan perwira tinggi dan pejabat keamanan Israel mengungkapkan kekhawatiran serius terhadap tren kekerasan yang semakin meluas terhadap warga sipil Palestina di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Dalam kunjungan langsung ke komunitas setempat, mereka mendokumentasikan serangan terhadap petani, penggembala, serta penghancuran rumah dan infrastruktur milik warga Palestina. Beberapa tokoh menilai tindakan tersebut bukan sekadar bentuk kekerasan biasa, melainkan bagian dari upaya sistematis untuk mengusir penduduk asli dari tanah mereka.
Ephraim Sneh, pensiunan Brigadir Jenderal dan mantan Menteri Kesehatan Israel, menyatakan secara tegas bahwa fenomena yang terjadi saat ini merupakan bentuk pembersihan etnis. “Ini bukan soal konflik, ini adalah upaya mengosongkan wilayah dari penduduk asli,” ujarnya. Sementara itu, Eyal Ben Reuven, mantan Komandan Pasukan Darat Israel, menekankan bahwa ancaman terbesar bagi stabilitas Israel bukan berasal dari negara-negara tetangga, melainkan dari tindakan ekstrem yang dilakukan oleh pemukim bersenjata dan dukungan struktural dari pemerintah.
Di Desa Burin, petani Bashar Eid menceritakan pengalaman traumatis akibat serangan pemukim, yang menyebabkan cedera permanen dan kehilangan akses ke lahan pertaniannya. Di Lembah Yordania, kondisi serupa terjadi, dengan sebagian besar warga Badui memilih mengungsi karena serangan malam hari yang tak henti-hentinya. Mohammad Khalil, warga setempat, mengungkapkan ketakutan yang mendalam: “Kami tak bisa tidur. Jika mereka datang saat kita tertidur, tak ada yang selamat.”
Lebih dari 200 tokoh dari latar belakang militer dan keamanan Israel, termasuk dua mantan perdana menteri dan puluhan jenderal pensiun, menandatangani petisi yang mengecam “terorisme Yahudi” dan “pembersihan etnis” di Tepi Barat. Mereka menyoroti peran pemerintah dalam mendukung pemukiman ilegal dan menyediakan infrastruktur bagi kelompok tersebut. Beberapa bahkan menuduh sebagian tentara aktif ikut serta dalam serangan terhadap warga sipil, sementara sebagian lainnya hanya diam saat kekerasan terjadi.
Mantan Menteri Pertahanan Moshe Ya’alon menyoroti ideologi supremasi Yahudi sebagai akar dari kekerasan yang kini berkembang, menilainya sebagai “Mein Kampf versi terbalik”. Sementara Asaf Agmon, pensiunan Jenderal Angkatan Udara, memperingatkan bahwa masyarakat yang membiarkan kekerasan sistematis terjadi akan mengalami kerusakan moral dan sosial yang tak terelakkan. Data PBB yang dikutip menunjukkan jumlah korban luka meningkat drastis—dari satu orang setiap tiga hari pada 2020 menjadi lebih dari tiga orang per hari pada 2026—dengan lebih dari 3.200 warga Palestina mengungsi akibat serangan tersebut, angka dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Tentara AS Didakwa Insider Trading Rp7,2 Miliar
Seorang tentara aktif AS didakwa menggunakan informasi rahasia militer untuk meraih keuntungan hingga Rp7,2 miliar dari pasar prediksi, terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara.
25 Oktober 2026

Lutfi dan Dino Berbeda Sikap Soal Tekanan Singapura Terkait Pasar Saham dan Karhutla
Perbedaan pandangan muncul antara dua tokoh publik soal respons terhadap tekanan Singapura terkait klasifikasi pasar modal dan kebakaran hutan, dengan Lutfi menyoroti kepentingan ekonomi dan lingkungan, sementara Dino menekankan pentingnya diplomasi dan kerja sama regional.
25 Oktober 2026

Widodo AS Tutup Usia, Pemimpin TNI Pertama dari Angkatan Laut
Mantan Panglima TNI dan Menko Polhukam, Laksamana TNI (Purn) Widodo Adi Sutjipto, meninggal dunia pada Minggu (25/10), meninggalkan jejak sejarah sebagai tokoh militer pertama dari matra Angkatan Laut yang memimpin TNI secara nasional.
25 Oktober 2026

Demonstrasi Prancis Ricuh, Massa Protes Biaya Hidup
Aksi protes nasional di Paris dan Marseille memicu bentrokan dengan polisi akibat ketidakpuasan terhadap kenaikan harga bahan bakar dan biaya hidup yang tinggi.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Anggota BPK Fathan Subchi Wafat di Usia 56 Tahun
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.59 WITA

Sopir Ojol Korban Tabrakan Mobil BYD Masih Dirawat di RS Fatmawati
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.58 WITA

Santri Klaten Diharapkan Jadi Pilar Pembangunan Indonesia Emas
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.58 WITA

Ribu Warga Albania Demo, Tuntut Mundurnya PM Akibat Krisis Hidup dan Korupsi
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.58 WITA

Prabowo Tegaskan Ketahanan Ekonomi Indonesia Hadapi Tekanan MSCI
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.57 WITA

243 Orang dan 14 Perusahaan Jadi Tersangka Karhutla
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.57 WITA

UMKM Binaan Pertamina Dorong Pemberdayaan Sosial dan Pelestarian Budaya
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.57 WITA

Penangkapan Jaringan Narkoba di Mesuji Ungkap Ratusan Ekstasi dan Senjata Rakitan
Minggu, 25 Oktober 2026, 17.57 WITA

