Gletser Terakhir Papua Hanya Tersisa 16 Hektare
Sisa es di Puncak Carstensz kini hanya seluas 16 hektare dan diperkirakan akan lenyap pada akhir 2026 atau awal 2027, mengancam ekosistem mikroorganisme unik yang hanya ditemukan di wilayah tersebut.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 19 September 2026, 14.39 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
📷 BBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Lapisan es di sekitar Puncak Carstensz kini menyisakan area seluas 16 hektare, menurut hasil riset terbaru dari Badan Meteorologi Dunia. Dengan tren pencairan yang kian cepat, kemungkinan besar gletser ini akan menghilang sepenuhnya dalam waktu beberapa tahun ke depan, menandai akhir dari satu era alam yang telah berlangsung selama berabad-abad. Wilayah ini, yang dikenal oleh masyarakat adat Amungme sebagai Nemangkawi, dulunya merupakan bagian dari jaringan gletser luas yang membentang di sepanjang pegunungan tengah Papua.
Pada masa lalu, salju abadi menutupi puncak-puncak seperti Mandala dan Trikora, namun kini hanya sisa es di East Carstensz yang masih tersisa. Peneliti dari Universitas Charles, Republik Ceko, Marie Sabacka, bersama tim dari Universitas Milan, melakukan pengambilan sampel inti es dan sedimen gelap di wilayah tersebut pada Maret 2026. Kegiatan ini merupakan salah satu penelitian lapangan terakhir yang dilakukan di area gletser terakhir di Papua dan wilayah Pasifik.
Temuan awal menunjukkan bahwa lapisan es yang tersisa tidak kosong secara biologis. Di dalamnya ditemukan komunitas mikroorganisme dan hewan mikroskopis yang unik dan jarang ditemukan di gletser lain di dunia. Keberadaan spesies tersebut menandakan bahwa gletser ini bukan sekadar es, melainkan ekosistem hidup yang sangat khas dan rentan. Hilangnya es berarti punahnya habitat bagi makhluk-makhluk mikroskopis yang telah beradaptasi selama puluhan ribu tahun.
Penyebab utama pencairan adalah pemanasan global yang dipicu aktivitas manusia, yang menyebabkan batas titik beku naik dan mengubah curah hujan menjadi air hujan daripada salju. Faktor seperti El Nino, radiasi matahari, dan bentuk gunung turut mempercepat proses tersebut. Meskipun tidak menjadi sumber air utama bagi masyarakat lokal, kehilangan gletser tetap membawa dampak ekologis mendalam. Perubahan iklim juga menyebabkan fluktuasi suhu dan curah hujan ekstrem di dataran tinggi, yang mengganggu kestabilan pertanian dan kehidupan sehari-hari warga.
Kehilangan gletser bukan hanya kehilangan es, tetapi juga simbol perubahan iklim global yang nyata dan tak terhindarkan. Dengan tidak adanya lagi lapisan es di Puncak Carstensz, Indonesia kehilangan satu dari sedikit sisa ekosistem gletser yang masih utuh di kawasan tropis. Dampaknya bukan hanya pada keanekaragaman hayati mikro, tetapi juga pada identitas budaya dan spiritual masyarakat adat yang telah memandang puncak tersebut sebagai tempat suci.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Serangan Bom di Kompleks Kepolisian Kohat Tewaskan 27 Orang
Serangan bom bunuh diri di masjid dalam kompleks kepolisian Kohat menewaskan 27 orang, termasuk anggota polisi dan warga sipil, dengan 57 lainnya terluka akibat ledakan dan baku tembak.
19 September 2026

Pengadilan Thailand Minta Darurat Bencana untuk Atasi Ikan Nila Invasif
Pengadilan Tata Usaha Negara Thailand memerintahkan penanganan darurat terhadap ikan nila dagu hitam yang merusak ekosistem dan mata pencaharian di Samut Songkhram.
19 September 2026

Prabowo Targetkan Penutupan 750 BUMN untuk Hemat Rp100 Triliun
Presiden Prabowo Subianto menetapkan penutupan 750 BUMN hingga 2026 sebagai langkah efisiensi, dengan pencapaian awal penutupan 328 perusahaan yang telah menghemat Rp50 triliun.
19 September 2026

Tanoto Foundation Perkuat Riset Kesehatan Asia Melalui Pendekatan Terintegrasi
Yayasan ini memperluas dukungan riset medis di Asia dengan fokus pada kesehatan ibu-anak, diabetes, kanker, dan gangguan degeneratif, berbasis pada kolaborasi lintas negara dan inovasi berbasis bukti.
19 September 2026
Berita Lainnya

Sekdis Perhubungan Sukabumi Ditangkap Usai Cabuli Siswi PKL
Sabtu, 19 September 2026, 17.30 WITA

Selebgram Jule Ditangkap Terkait Penyalahgunaan Vape Etomidate
Sabtu, 19 September 2026, 17.30 WITA

KPK Ungkap 8 Titik Rawan Korupsi Pertanahan Sebelum OTT di BPN
Sabtu, 19 September 2026, 17.30 WITA

Tiga Korban KM Virgo Teridentifikasi, Keluarga Diberi Tahu
Sabtu, 19 September 2026, 17.30 WITA

KRI Sriwijaya Siap Berganti Nama 24 September
Sabtu, 19 September 2026, 17.30 WITA

Prabowo Sebut Dua Tahun Kepemimpinan Momentum Tepat untuk Evaluasi Kabinet
Sabtu, 19 September 2026, 15.50 WITA

Prabowo Soroti Akademisi yang Bela Keuntungan Asing
Sabtu, 19 September 2026, 15.50 WITA

KPK Perluas Penyelidikan Suap HGB dengan Geledah Rumah dan Kantor
Sabtu, 19 September 2026, 15.49 WITA

