Hyundai Peringatkan AS Soal Ancaman Mobil China Tanpa Tarif
CEO Hyundai memperingatkan Amerika Serikat bisa menghadapi banjir mobil China jika tidak mempertahankan kebijakan proteksi pasar, seiring lonjakan pangsa pasar di Eropa dan Inggris.
Redaksi iNarasikita·Senin, 21 September 2026, 21.09 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - CEO Hyundai Motor, Jose Munoz, menggarisbawahi risiko besar bagi pasar otomotif Amerika Serikat jika kebijakan proteksi terhadap mobil listrik China dicabut. Dalam pernyataan di San Jose, California, ia menekankan bahwa tanpa tarif atau mekanisme pengaman akses pasar, AS berpotensi mengalami dampak serupa dengan Uni Eropa dan Inggris, di mana produsen mobil China berhasil merebut pangsa pasar secara signifikan. Ia menyebut harga kendaraan asal Tiongkok jauh lebih kompetitif, berkisar 30 hingga 40 persen lebih murah dibandingkan produk pesaing di pasar seperti Prancis, Spanyol, dan Italia.
Meski Uni Eropa telah menerapkan tarif dan kesepakatan harga minimum terhadap mobil listrik China sebagai respons terhadap subsidi pemerintah yang dinilai tidak adil, dampaknya belum cukup menahan lonjakan ekspor. Data dari Asosiasi Produsen Mobil Eropa (ACEA) menunjukkan pangsa mobil China di pasar Uni Eropa mencapai lebih dari 9 persen pada semester pertama 2026. Di Inggris, angkanya bahkan lebih tinggi, mencapai 15 persen dari total registrasi mobil baru, menurut data SMMT. Munoz menyebut pasar Inggris—yang sebelumnya menjadi wilayah strategis—kini mengalami transformasi serupa dengan pasar China karena kurangnya kebijakan perlindungan.
Di AS, kebijakan tarif sekitar 100 persen terhadap mobil listrik China tetap berlaku, menjadi faktor utama dalam membatasi masuknya produk asal Tiongkok. Namun, Munoz menegaskan bahwa kebijakan ini harus dipertahankan untuk menjaga keseimbangan pasar. Ia juga menyoroti peringatan serupa dari Ford, yang menyatakan siap menghadapi kemungkinan masuknya produsen mobil China ke AS dalam jangka 5 hingga 10 tahun ke depan. Langkah strategis Hyundai pun disesuaikan, termasuk penundaan peluncuran sistem bantuan pengemudi Level 2++ hingga akhir 2029, dari rencana awal akhir 2027.
Penundaan ini dilakukan untuk memastikan validasi data dan kinerja keselamatan sistem secara mendalam. Pada saat yang sama, Hyundai mempercepat kerja sama dengan Nvidia guna meluncurkan kendaraan dengan teknologi Level 2+ dan Level 2++ pada 2028. Munoz menekankan pentingnya kolaborasi dalam tahap awal, terutama dalam pengembangan teknologi yang belum sepenuhnya matang. Ia menegaskan bahwa meski akan terus menjalin kemitraan, Hyundai berkomitmen untuk menguasai teknologi inti seperti baterai dan kendaraan otonom secara mandiri di masa depan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Indonesia Masuk Lima Besar Asia untuk Kunjungan Wisatawan 2025
Indonesia menempati posisi kelima sebagai negara di Asia dengan jumlah kunjungan wisatawan asing tertinggi pada 2025, mencatat 15,39 juta kunjungan berdasarkan data BPS.
21 September 2026

Anak Sulung Taipan Vietnam Pimpin VinFast Secara Penuh
Pham Nhat Quan Anh resmi menjabat CEO VinFast, menggantikan peran sebelumnya sebagai chairman, dalam langkah transformasi bisnis yang menekankan fokus pada inovasi dan efisiensi.
21 September 2026

Jejak Kaki T-rex Dewasa Pertama Ditemukan di North Dakota
Temuan jejak kaki T-rex dewasa pertama di dunia, berusia 66,5 juta tahun, mengungkapkan kecepatan dan pola pergerakan dinosaurus raksasa tersebut.
21 September 2026

Ubur-Ubur Raksasa Muncul di Perairan Wales, Panjangnya Setara Bus
Seorang penyelam muda menangkap rekaman ubur-ubur surai singa raksasa di dekat Pantai Trefin, dengan tentakel mencapai 15 meter, mengejutkan warganet dan pakar biologi kelautan.
21 September 2026
Berita Lainnya

Harga Beras Diproyeksikan Turun Pekan Ini
Senin, 21 September 2026, 23.18 WITA

Kemenkeu Tunda Pembayaran Cicilan Rp37 Triliun ke Kopdes Merah Putih
Senin, 21 September 2026, 23.18 WITA

Saham BYAN Melemah Meski RKAB Anak Usaha Disetujui
Senin, 21 September 2026, 23.17 WITA

BEI Turunkan Harga Saham Minimum Jadi Rp1 Mulai 28 September
Senin, 21 September 2026, 23.17 WITA

Romy Bareno Resmi Jadi Komisaris Independen InJourney Airports
Senin, 21 September 2026, 23.17 WITA

Pemerintah Siapkan E50-B50 untuk Hemat Devisa Rp500 Triliun Tahunan
Senin, 21 September 2026, 23.17 WITA

Prabowo Dorong Bensin dari Batu Bara untuk Kemandirian Energi
Senin, 21 September 2026, 23.17 WITA

BYOND by BSI Perkenalkan Fitur Infaq Otomatis Terjadwal
Senin, 21 September 2026, 23.16 WITA

