Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melemah 1,2% ke Level 5.373 Akibat Tekanan Global

Indeks saham domestik turun 66,16 poin atau 1,22% ke 5.373,09 akibat tekanan pasar global dan ekspektasi kebijakan moneter global yang menegang.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 26 Oktober 2026, 17.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Melemah 1,2% ke Level 5.373 Akibat Tekanan Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, menutup sesi di level 5.373,09, turun 66,16 poin dari penutupan pekan sebelumnya. Pergerakan indeks dimulai dengan kenaikan tipis ke posisi 5.442,30, namun seiring berjalannya sesi, tekanan jual mendominasi pasar. Puncak kenaikan terjadi di awal sesi saat indeks menyentuh 5.453,65, sebelum kemudian anjlok tajam hingga menyentuh titik terendah harian di 5.349,75 menjelang pukul 10.00 WIB. Pergerakan fluktuatif ini mencerminkan ketidakpastian yang meningkat di tengah ekspektasi kebijakan moneter global.

Dari total saham yang diperdagangkan, 542 mengalami penurunan harga, 247 stagnan, dan hanya 174 yang mampu mencatatkan kenaikan. Kondisi ini menunjukkan dominasi sentimen negatif yang menyelimuti pasar. Faktor utama yang mendorong pelemahan berasal dari sentimen pasar global yang terus terganggu oleh ketegangan geopolitik dan perkembangan ekonomi makro yang tidak menentu. Investor kini lebih berhati-hati menyikapi risiko yang muncul dari kebijakan bank sentral dan data ekonomi penting yang akan dirilis dalam pekan ini.

Pekan ini menjadi krusial bagi pasar keuangan, baik global maupun domestik, karena sejumlah bank sentral besar akan mengumumkan keputusan kebijakan moneter. Termasuk Federal Reserve AS, European Central Bank (ECB), Bank of Japan (BOJ), dan bank sentral lainnya pada rentang 26 hingga 30 Oktober. Pasar menanti sinyal dari keputusan suku bunga, terutama dari The Fed yang akan mengumumkan kebijakan pada Kamis, 29 Oktober. Meskipun diperkirakan suku bunga tetap di kisaran 3,75%-4,00%, fokus utama berpindah ke pernyataan Ketua The Fed terkait inflasi dan prospek ekonomi AS.

Data penting lainnya yang akan menjadi acuan termasuk pertumbuhan ekonomi AS kuartal III, inflasi PCE September, serta proyeksi pertumbuhan zona euro. Pertumbuhan AS diperkirakan tumbuh 3,2% secara tahunan, sementara inflasi PCE inti diperkirakan naik menjadi 3,1% dari 3,0% pada Agustus. Kenaikan inflasi yang melampaui ekspektasi dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, berdampak pada arus modal dan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, perlambatan ekonomi Eropa, yang diperkirakan tumbuh 0,2% secara kuartalan, dapat memengaruhi keputusan ECB dan menambah ketegangan di pasar keuangan global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya