Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pergeseran Pusat Ekonomi Batavia dari Kota Tua ke Pasar Baru

Perpindahan pusat ekonomi Batavia dari kawasan utara ke selatan pada abad ke-19 melahirkan Pasar Baru sebagai pusat niaga baru yang tumbuh di kawasan Weltevreden.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 26 Oktober 2026, 17.40 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Pergeseran Pusat Ekonomi Batavia dari Kota Tua ke Pasar Baru📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada masa kolonial, Kota Tua menjadi simbol awal perkembangan ekonomi Jakarta, berawal dari penaklukan Sunda Kelapa oleh Fatahillah pada 1526 dan transformasi menjadi Jayakarta. Setelah itu, VOC mendirikan Batavia di atas reruntuhan kota tersebut pada 1619–1620, menjadikannya pusat pemerintahan dan perdagangan. Namun, seiring waktu, kondisi lingkungan dan sanitasi di wilayah utara semakin memburuk, memicu ancaman kesehatan yang mengancam keberlangsungan kehidupan warga.

Pada awal abad ke-19, pemerintah kolonial memutuskan untuk memindahkan pusat aktivitas ke wilayah selatan yang dinilai lebih sehat dan layak dikembangkan. Di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, kawasan Weltevreden—yang kini mencakup Gambir, Lapangan Banteng, dan sekitarnya—dijadikan lokasi baru pusat pemerintahan. Perpindahan ini tidak hanya mengubah tata ruang administratif, tetapi juga menggeser arus ekonomi dan pemukiman dari pesisir utara ke arah selatan.

Sejalan dengan perkembangan Weltevreden sebagai kawasan hunian elit, dibangunlah Pasar Baru pada tahun 1820 untuk memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat lokal. Nama "Pasar Baru" mencerminkan posisinya sebagai pasar baru yang muncul setelah pasar-pasar lama seperti Pasar Senen dan Tanah Abang. Lokasinya yang strategis, dekat dengan pemukiman kelas atas, membuat Pasar Baru cepat berkembang menjadi pusat perbelanjaan bergengsi, khususnya bagi warga Eropa yang tinggal di sekitar Weltevreden dan Rijswijk.

Kehadiran pedagang dari berbagai etnis—termasuk pribumi, Tionghoa, dan India—menambah kekayaan akulturasi budaya dan ekonomi di kawasan ini. Pada tahun 1930-an, Pasar Baru telah menjadi salah satu jantung ekonomi Batavia, dengan aktivitas perdagangan yang semakin padat. Hingga kini, meski telah mengalami transformasi, bangunan-bangunan tua Pasar Baru tetap berdiri sebagai saksi bisu perubahan ekonomi kota dari masa lalu hingga era modern Jakarta.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya