Jumat, 18 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melonjak Awal Pekan Didorong Lonjakan Saham Kelompok Haji Isam

Indeks saham utama naik 0,76% ke level 6.511,50 berkat penguatan saham BYAN dan emiten milik Haji Isam, didukung kondisi pasar global yang membaik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 18 September 2026, 11.32 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
IHSG Melonjak Awal Pekan Didorong Lonjakan Saham Kelompok Haji Isam📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada awal perdagangan Jumat (18/9/2026), mencatat kenaikan 49,07 poin atau 0,76% ke posisi 6.511,50. Pergerakan positif ini terjadi setelah indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.521,02 dan terendah 6.506,72 di awal sesi. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 280 menguat, 129 melemah, sementara 554 stagnan. Nilai transaksi pasar mencapai Rp363,5 miliar dengan volume perdagangan mencapai 555,9 juta lembar saham.

Penguatan utama berasal dari saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang melonjak 19,96% ke level Rp13.825. Kenaikan ini terpicu setelah perusahaan mengumumkan rencana pengalihan sekitar 10 miliar saham milik pendiri, Low Tuck Kwong, dan putrinya, Elaine Low, kepada PT Jhonlin Baratama—entitas dalam Jhonlin Group milik pengusaha Haji Isam. Perubahan kepemilikan ini menimbulkan optimisme pasar terhadap prospek likuiditas dan pengelolaan strategis perusahaan.

Selain BYAN, sejumlah emiten terkait kelompok Haji Isam juga menunjukkan kinerja positif. Saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) naik 5,49% ke Rp4.420, PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) menguat 16,03% ke Rp4.550, dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) melonjak 8,96% ke Rp1.175. Kenaikan ini mencerminkan sentimen positif terhadap dinamika korporasi dan ekspektasi pertumbuhan bisnis dari grup usaha tersebut.

Dukungan dari pasar global juga turut berkontribusi. Wall Street menutup perdagangan Kamis dengan penguatan signifikan, didorong kenaikan Dow Jones (0,61%), S&P 500 (1,14%), dan Nasdaq Composite (1,69%). Penurunan imbal hasil obligasi AS dan harga minyak global—Brent turun ke US$104,82 per barel, WTI ke US$101,91—mengurangi tekanan terhadap aset berisiko. Meski demikian, ketegangan di Timur Tengah tetap menjadi perhatian, terutama setelah konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi kembali memanas, yang menyebabkan penurunan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.

Di tingkat ekonomi makro, data klaim tunjangan pengangguran AS turun menjadi 196.000, lebih rendah dari perkiraan 208.000, menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja AS. Hal ini memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter The Fed. Sementara itu, Bank of England mempertahankan suku bunga di 3,75% meski inflasi Inggris naik ke 3,1%. Di Asia, pasar menanti rilis data inflasi Jepang dan keputusan suku bunga Bank of Japan, yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya