Iran Kembangkan Sistem Pertahanan Udara Unggulan Tanpa Analog di Dunia
Iran mengungkapkan pengembangan sistem pertahanan udara baru yang disebut tak dimiliki negara manapun, dengan hasil operasional menurunkan lebih dari 200 pesawat musuh dalam konflik 40 hari.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 01.44 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Iran kini tengah menyelesaikan pengembangan sistem pertahanan udara generasi terbaru yang diklaim unik dan tak memiliki kesamaan dengan teknologi militer negara lain. Komandan Pasukan Pertahanan Udara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Alireza Elhami, menegaskan bahwa rancangan sistem tersebut sedang dalam proses transformasi dari konsep ke produk operasional yang siap diterjunkan di medan pertempuran.
Menurut Elhami, keunggulan utama dari sistem ini terletak pada tingkat kebaruan teknologi yang belum pernah ada sebelumnya di dunia militer. Ia menekankan bahwa sistem tersebut tidak dapat dipetakan atau dibandingkan dengan teknologi pertahanan udara yang sudah dikenal secara global. Keberadaannya yang belum terdeteksi secara akurat oleh lawan menjadi salah satu faktor kunci dalam efektivitas operasionalnya.
Dalam konflik berdurasi 40 hari, sebagian sistem pertahanan udara buatan dalam negeri Iran telah dikerahkan dan terbukti berhasil menjatuhkan lebih dari 200 pesawat musuh. Keberhasilan ini, menurut komandan, didukung oleh ketidakmampuan lawan untuk mengidentifikasi sumber serangan atau merancang respons yang efektif. Keterbatasan pengetahuan lawan mengenai spesifikasi dan metode kerja sistem menjadi senjata strategis yang memperkuat pertahanan nasional.
Proses pengembangan sistem baru ini masih berlangsung dalam tahap evaluasi lapangan dan penilaian kinerja. Setelah melalui proses validasi teknis dan legalitas, sistem tersebut akan memasuki tahap produksi massal dan replikasi untuk memperluas kapasitas pertahanan nasional. Tujuan utamanya adalah menciptakan alat pertahanan yang mandiri, tak tergantung pada pasokan asing, serta mampu menangkal ancaman udara dengan efisiensi tinggi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Widodo AS Tutup Usia, Pemimpin TNI Pertama dari Angkatan Laut
Mantan Panglima TNI dan Menko Polhukam, Laksamana TNI (Purn) Widodo Adi Sutjipto, meninggal dunia pada Minggu (25/10), meninggalkan jejak sejarah sebagai tokoh militer pertama dari matra Angkatan Laut yang memimpin TNI secara nasional.
25 Oktober 2026

Demonstrasi Prancis Ricuh, Massa Protes Biaya Hidup
Aksi protes nasional di Paris dan Marseille memicu bentrokan dengan polisi akibat ketidakpuasan terhadap kenaikan harga bahan bakar dan biaya hidup yang tinggi.
25 Oktober 2026

Houthi Negasi Serangan ke Makkah dan Madinah, Sebut Klaim Saudi Bohong
Kelompok Houthi menyangkal tudingan Arab Saudi bahwa rudal mereka menargetkan Makkah dan Madinah, menyebut pernyataan tersebut sebagai kebohongan besar.
25 Oktober 2026

4 Pilot Tewas dalam Tabrakan Pesawat Latih di Filipina
Dua pesawat latih SF-260 Angkatan Udara Filipina bertabrakan saat latihan, menewaskan empat pilot di Pangkalan Udara Fernando, Batangas.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Anggota BPK RI Fathan Subchi Wafat di Usia 56 Tahun
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.28 WITA

Ekonomi Kreatif Dorong PDRB Jakarta Capai Rp410 Triliun
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.27 WITA

Empat Acara Besar Serentak di Senayan Picu Pengalihan Lalu Lintas
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.27 WITA

Elektabilitas PSI Berada di Bawah NasDem dalam Survei IPO
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.25 WITA

Gubernur Kalbar Tekankan Penyelesaian BBM dan Listrik dalam Rapat Koordinasi
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.24 WITA

Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin Gagal Digagalkan Tim Gabungan
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.23 WITA

Cak Imin Dorong Pemberdayaan bagi Penerima Bansos
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.23 WITA

Operasi Patuh 2026 Dimulai, Fokus Tindak Pengguna HP dan Pelanggaran Berbahaya
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.22 WITA

