Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Iran Siap Penuhi MoU Jika AS Kembali Berkomitmen

Presiden Iran menegaskan kesiapan Teheran memenuhi kewajiban MoU perdamaian jika AS kembali menunjukkan komitmen, sambil menolak tudingan dan mengutuk agresi militer sebagai ilegal.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 21.45 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Iran Siap Penuhi MoU Jika AS Kembali Berkomitmen
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa negaranya tetap siap melaksanakan kewajiban dalam nota kesepahaman perdamaian dengan Amerika Serikat, asalkan Washington menunjukkan komitmen yang tulus dan konsisten. Pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Bishkek, ibu kota Kirgizstan, pada sidang tingkat tinggi Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) 2026. Pezeshkian menekankan bahwa tekanan dan ancaman militer tidak dapat lagi menjadi alat diplomasi yang sah dalam hubungan internasional.

Ia menyoroti serangan AS dan Israel yang menewaskan tokoh tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi sebelumnya, serta sejumlah komandan dan warga sipil, sebagai bentuk agresi tanpa dasar hukum. Menurutnya, tindakan semacam itu tidak dapat dibenarkan secara moral maupun hukum. Pezeshkian juga menekankan penolakan terhadap kebijakan unilateralisme, sanksi eksternal, dan pendekatan paksaan, seraya menyerukan penguatan kerja sama multilateral dan regional sebagai jalan keluar dari krisis.

Hubungan strategis antara Iran dan Rusia, menurut Pezeshkian, berada pada tingkat yang sangat baik, didukung oleh solidaritas Moskow dalam berbagai isu geopolitik. Putin, dalam kesempatan yang sama, menyampaikan keprihatinan atas persistensi ketegangan di kawasan dan menyatakan harapan bahwa perundingan antara AS dan Iran dapat menghasilkan kesepakatan nyata. Ia menegaskan komitmen Rusia untuk memperdalam kerja sama dengan Iran di berbagai bidang, termasuk politik, ekonomi, dan keamanan.

Pernyataan ini disusul oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, yang membantah klaim AS terkait serangan terhadap Pulau Larak, menyebutnya sebagai kebohongan. Ia juga menolak tudingan bahwa Iran sedang bersiap memasang ranjau di Selat Hormuz, serta menekankan bahwa narasi Washington tentang pengembangan senjata nuklir oleh Iran adalah bagian dari pola penciptaan alasan untuk membenarkan tindakan agresif.

Perundingan antara AS dan Iran yang diawali dengan penandatanganan MoU pada 18 Juni 2026, ditargetkan menyelesaikan konflik dalam periode 60 hari, berakhir pada 17 Agustus. Namun, eskalasi militer yang terus berlangsung, termasuk serangan gabungan Israel-AS pada 28 Februari terhadap wilayah Iran, membuat masa depan perundingan tetap tidak pasti. Iran tetap menegaskan bahwa kesiapannya untuk berdialog tergantung pada keberpihakan AS terhadap prinsip-prinsip hukum internasional dan keadilan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya