Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Israel Perluas Kurikulum Zionis untuk 45 Ribu Siswa Palestina di Yerusalem

Pemerintah Yerusalem melaporkan peningkatan drastis jumlah siswa Palestina di kota yang diduduki yang wajib mengikuti kurikulum Israel, mencapai lebih dari 45.000 siswa pada tahun ajaran 2026-2027.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 03.51 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Israel Perluas Kurikulum Zionis untuk 45 Ribu Siswa Palestina di Yerusalem
Foto: Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Provinsi Yerusalem mengungkapkan adanya eskalasi serius dalam penerapan kurikulum pendidikan Israel terhadap siswa Palestina di wilayah yang diduduki. Kebijakan ini, yang mulai berlaku pada awal tahun ajaran 2026-2027, menargetkan siswa kelas satu dan tujuh di 105 sekolah resmi yang berada di bawah otoritas kota pendudukan. Penerapan ini menandai perluasan signifikan dari kebijakan sebelumnya yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

Juru bicara pemerintah provinsi, Marouf al-Rifai, menyebut tindakan ini sebagai bentuk intervensi sistematis yang belum pernah terjadi sejak 1967, dengan tujuan mengubah identitas sejarah dan kesadaran kolektif generasi muda Palestina. Ia menekankan bahwa langkah tersebut bukan sekadar perubahan akademik, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengendalikan institusi pendidikan Palestina melalui kendali administratif dan pemotongan akses terhadap pendanaan.

Berdasarkan data yang dikutip dari media Israel Haaretz, sebanyak 39.363 siswa Palestina akan mengikuti kurikulum Israel di sekolah-sekolah resmi, sementara 5.085 siswa lainnya berada dalam kategori lembaga yang diakui tetapi tidak resmi. Total keseluruhan siswa Palestina yang terdampak mencapai lebih dari 45.000 orang, atau sekitar 38 persen dari total siswa di Yerusalem Timur yang diduduki, yang jumlahnya mendekati 120.000.

Peningkatan jumlah siswa yang terkena kurikulum Israel terjadi secara konsisten dari tahun ke tahun. Pada 2020-2021, hanya 10.347 siswa yang terdampak, naik menjadi 19.402 pada 2024-2025, dan mencapai 27.041 pada 2025-2026. Hanya dalam waktu sekitar 15 tahun, jumlah ini meningkat dari beberapa ratus siswa menjadi lebih dari dua puluh ribu. Perubahan ini menunjukkan transformasi besar dalam pendekatan pendidikan yang dilakukan oleh otoritas pendudukan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya