Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kolaborasi Kemenko Pangan dan Unpatti Dorong Kesejahteraan Nelayan Maluku

Pemerintah memperkuat kampung nelayan melalui kerja sama strategis dengan Unpatti untuk tingkatkan daya tawar dan kesejahteraan nelayan di Maluku.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 02.38 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kolaborasi Kemenko Pangan dan Unpatti Dorong Kesejahteraan Nelayan Maluku
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Kementerian Koordinator Bidang Pangan kini menjajaki kerja sama dengan Universitas Pattimura guna mempercepat pengembangan kampung nelayan sebagai bentuk strategi peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir di Maluku. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam memastikan program ketahanan pangan sektor perikanan berjalan efektif dan berdampak langsung pada pelaku usaha lokal. Ia menyebut Unpatti sebagai salah satu institusi unggulan yang dapat menjadi mitra strategis dalam transformasi ekonomi pesisir.

Dalam kunjungannya ke Ambon, dia menyoroti kondisi nilai tukar nelayan (NTN) yang saat ini berada di angka sekitar 103, jauh di bawah nilai tukar petani yang mencapai sekitar 127. Target pemerintah adalah menaikkan NTN menjadi 120 pada akhir 2027. Untuk mencapai hal itu, diperlukan pendekatan holistik yang melibatkan fasilitas pendukung dan penguatan sistem rantai nilai.

Kampung nelayan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan pusat ekonomi berkelanjutan yang dilengkapi balai lelang, cold storage, stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN), bengkel perbaikan kapal, serta infrastruktur pendukung lainnya. Fasilitas penyimpanan hasil tangkapan, khususnya, menjadi kunci untuk mengurangi tekanan menjual ikan secara mendadak saat pasokan melimpah, sehingga nelayan bisa memilih waktu penjualan yang lebih menguntungkan.

Pemerintah menilai potensi kelautan dan perikanan di wilayah kepulauan seperti Maluku, NTT, dan Maluku Utara sangat besar, sehingga diperlukan pendekatan kolaboratif dengan lembaga akademik. Penguatan kelembagaan, teknologi pengolahan dan penyimpanan, serta pengembangan ekonomi pesisir berbasis blue carbon menjadi fokus utama. Dengan pendekatan yang tepat, diharapkan kampung nelayan mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya