Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Korea Selatan Jadi Pusat Baru Mikrodrama Global

Industri hiburan Korea mulai fokus pada produksi mikrodrama dengan durasi singkat dan narasi intens, menyesuaikan perilaku penonton modern yang menginginkan kepuasan instan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 15.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Korea Selatan Jadi Pusat Baru Mikrodrama Global
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Korea Selatan kini menunjukkan ambisi besar dalam pengembangan mikrodrama, bentuk konten sinematik berdurasi pendek yang kini menjadi tren global. Dengan permintaan yang terus meningkat, produser dan sineas mulai mengalokasikan sumber daya untuk menciptakan karya-karya vertikal yang dirancang khusus untuk layanan streaming dan media sosial. Meski sebelumnya dominan dikuasai oleh konten impor dari China sejak 2018, kini pasar lokal mulai tumbuh pesat, didorong oleh kebiasaan menonton yang berubah drastis.

Pertumbuhan ini terlihat jelas dari penyelenggaraan Bucheon International Fantastic Film Festival 2026 yang menyediakan segmen khusus bertajuk Platform Special Screening: Short-form Cinema. Di sana, karya-karya seperti *My Father's Table* karya Lee Joon-ik, *Lovely Death*, dan *WIND UP: THE MOVIE* diputar sebagai representasi evolusi narasi pendek. Lee Joon-ik, sutradara terkenal lewat *The King and the Clown*, mengadaptasi karya webtoon dari Lezhin Comics, menekankan bahwa durasi maksimal dua menit telah menjadi batas ideal untuk mempertahankan perhatian penonton modern.

Survei dari Korea Creative Content Agency tahun 2025 menunjukkan bahwa 58,6 persen responden mengonsumsi konten pendek secara rutin, menunjukkan pergeseran perilaku menonton yang mendalam. Di sisi ekonomi, mikrodrama menawarkan efisiensi biaya yang jauh lebih tinggi dibandingkan produksi drama tradisional. Bayaran aktor dalam proyek mikrodrama berkisar antara 300 ribu hingga 5 juta won per episode, jauh lebih rendah dibandingkan 300 juta won per episode untuk drama utama di platform global.

Profesor Yun Suk-jin dari Universitas Nasional Chungnam menilai bahwa penurunan produksi film dan serial televisi tradisional mendorong munculnya mikrodrama sebagai alternatif yang menjanjikan. Ia menyebut bahwa audiens baru, yang terbiasa dengan konten berdurasi pendek, telah membuka ruang pasar yang lebih luas. Selain itu, mikrodrama memberi ruang lebih besar bagi kreator untuk mengeksplorasi tema-tabu dan intensitas cerita yang sulit diwujudkan dalam format tradisional.

Kemampuan kreator untuk bereksperimen dengan berbagai genre—bukan hanya romansa atau balas dendam—menjadi daya tarik utama. Beberapa produser bahkan mulai menghadirkan cerita pertumbuhan remaja bertema olahraga dengan bintang K-pop sebagai pemeran utama. Dengan dukungan ekosistem webtoon yang kuat, kualitas penyutradaraan sinematik, dan daya tarik bintang, mikrodrama Korea diproyeksikan bisa tumbuh menjadi industri berdampak global dalam lima tahun ke depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya