Likuiditas Harus Mengalir ke Sektor Produktif untuk Dorong Pertumbuhan
Kemenkeu tekankan pentingnya arus uang yang produktif, bukan sekadar likuiditas, agar pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan stabil.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 10 Oktober 2026, 17.54 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Kementerian Keuangan menekankan bahwa keberadaan likuiditas dalam sistem keuangan tidak otomatis mendorong pertumbuhan ekonomi jika tidak diarahkan ke sektor-sektor yang mampu menghasilkan nilai tambah. Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi DJSEF, Noor Faisal Achmad, menegaskan bahwa uang yang mengendap dalam perputaran tanpa aktivitas produktif tidak berdampak nyata terhadap perekonomian nasional. Ia menekankan perlunya transmisi likuiditas yang efektif menuju sektor riil, seperti pertanian, UMKM, dan industri ekspor.
Dalam paparannya pada acara Mata Lokal Fest 2026 di Jakarta, Noor mencontohkan dampak nyata likuiditas saat petani bisa membiayai tanam, pelaku usaha kecil mendapatkan akses bahan baku, serta eksportir mampu menambah kapasitas produksi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan hanya bisa tercapai jika ada sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan sektor riil dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Pemerintah, kata dia, memainkan peran katalis melalui belanja APBN yang secara konsisten digunakan untuk memacu investasi, memperkuat konektivitas, serta melindungi kelompok rentan. Hingga Agustus 2026, realisasi belanja pemerintah mencapai Rp1.791,5 triliun, termasuk alokasi belanja modal sebesar Rp159,8 triliun untuk pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan dan sistem irigasi. Pendanaan ini diharapkan mampu mempercepat akses dan efisiensi produksi di berbagai daerah.
Namun, keberhasilan tersebut tetap bergantung pada kredibilitas pengelolaan fiskal. Defisit anggaran per Agustus 2026 tercatat sebesar Rp240,1 triliun, atau setara 0,96 persen dari PDB, yang menunjukkan kewaspadaan terhadap keseimbangan anggaran. Noor menegaskan bahwa kepercayaan publik terhadap sistem ekonomi tidak dibangun semata dari komunikasi, melainkan dari konsistensi dalam pelaksanaan kebijakan, kualitas institusi, dan hasil nyata yang dirasakan masyarakat.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Asing Beli Besar, IHSG Terpuruk 1,88%
IHSG turun 1,88% ke 6.031,28 akibat tekanan jual, sementara asing catatkan pembelian bersih di 10 saham kunci meski total net sell mencapai Rp867 miliar.
10 Oktober 2026

Asing Lepas Saham-Saham Unggulan, IHSG Terkoreksi 1,88%
Investor asing mencatatkan penjualan bersih Rp867 miliar, menyebabkan IHSG turun ke level 6.031,28 akibat penjualan besar-besaran pada 10 saham utama.
10 Oktober 2026

PBSA Gelar Stock Split, Nilai Saham Turun Jadi Rp25
PT Paramita Bangun Sarana Tbk resmi melakukan pemecahan saham dengan rasio 1:2, menurunkan nilai nominal dari Rp50 menjadi Rp25 per lembar, mulai 14 Oktober 2026.
10 Oktober 2026

BEI Perkuat Standar Keuangan IPO Mulai 2026
BEI memperketat syarat keuangan bagi perusahaan IPO dan perkuat kriteria kelangsungan di papan utama mulai Oktober 2026.
10 Oktober 2026
Berita Lainnya

IHSG Sesi I Naik 0,35% ke Level 6.052
Sabtu, 10 Oktober 2026, 17.57 WITA

BIKE Perkuat Lini Bisnis Energi Lewat Akuisisi Tambang Batu Bara
Sabtu, 10 Oktober 2026, 17.57 WITA

Asing Jual Bersih Rp32 Miliar, Tapi 10 Saham Ini Justru Dibeli Melimpah
Sabtu, 10 Oktober 2026, 17.57 WITA

Hindari Kehilangan Dana, Ini 11 Langkah Perlindungan M-Banking
Sabtu, 10 Oktober 2026, 17.57 WITA

Duit Warga Raib Rp9,1 Triliun, OJK Sebut 1.000 Laporan Harian
Sabtu, 10 Oktober 2026, 17.56 WITA

Kredit Bermasalah? Ini Langkah Bersihkan Rekam Jejak di SLIK OJK
Sabtu, 10 Oktober 2026, 17.56 WITA

IHSG Tertekan 1,88% ke Level 6.031 di Penutupan Kamis
Sabtu, 10 Oktober 2026, 17.56 WITA

Danantara Dukung Impor KRL Bekas Jepang untuk Kebutuhan Publik
Sabtu, 10 Oktober 2026, 17.55 WITA

