Omzet Toko Suvenir Trump Anjlok, Penjualan Turun Drastis
Toko suvenir Donald Trump di Virginia mengalami penurunan omzet drastis, dari puncak US$15 ribu per hari kini hanya mencapai US$2 ribu, akibat berkurangnya pasokan dari China dan perubahan citra publik presiden tersebut.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 11 Oktober 2026, 12.06 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Toko suvenir Trump Town di Boones Mill, Virginia, kini jauh dari kesibukan masa kejayaannya. Omzet yang dulu mencapai hingga US$15 ribu per hari kini merosot drastis, hanya berkisar antara US$1.500 hingga US$3.000, tergantung musim dan peristiwa politik. Whitey Taylor, pemilik toko, mengungkapkan bahwa penurunan ini bukan hanya karena tren yang menurun, tetapi juga akibat berkurangnya pasokan barang dari produsen di Tiongkok yang kini enggan memproduksi produk bertema Trump.
Pada masa kampanye Trump untuk kembali ke Gedung Putih, barang-barang seperti bola krom untuk gantungan truk menjadi primadona. Namun, saat dikunjungi pada September 2023, penjualan barang tersebut sudah menurun signifikan. Bahkan, meskipun ukuran barang diperbesar menjadi XL, antusiasme pengunjung tak lagi sebesar dulu. Taylor menyebut banyak pelanggan sudah memiliki koleksi berlimpah, termasuk topi, bendera, dan aksesori lainnya, sehingga minim minat membeli lagi.
Barang-barang yang masih laris mencakup berbagai produk unik, seperti gelas sloki, boneka kepala goyang, cetakan es berwajah Trump, serta kaleng berlabel “Kentut Sapi” yang jadi sindiran terhadap komentar politisi AS terkait pemanasan global. Banderol “DADDY'S HOME” tetap diminati, terutama oleh kalangan mahasiswa. Namun, kekecewaan terhadap kebijakan Trump, terutama soal harga BBM dan sikap terhadap konflik Iran, mulai memengaruhi loyalitas pembeli.
Survei terbaru menunjukkan mayoritas warga Amerika menilai Trump memperburuk kondisi ekonomi, sementara sebagian besar juga merasa dampak perang dan kebijakan tarif merugikan keuangan mereka. Beberapa pelanggan, seperti Barbara Keith dari South Carolina, mempertanyakan kebijakan energi meski tidak menyalahkan Trump secara langsung. Meski demikian, mereka tetap berbelanja, termasuk membeli cetakan es bertuliskan “end the wokeness”, sebagai bentuk dukungan simbolis meski tidak sepenuhnya setuju dengan semua kebijakan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pertamina Dorong Pemulihan Ekonomi Perajin Tenun Sade
PT Pertamina memberikan 45 alat tenun dan pelatihan pendampingan untuk membantu perajin Desa Adat Sade pulih pasca-kebakaran, menjaga tradisi budaya dan mendukung pemulihan ekonomi lokal.
11 Oktober 2026

Liang Wenfeng, Pendiri DeepSeek, Kaya Raya dari AI Canggih
Pendiri DeepSeek, Liang Wenfeng, kini memiliki kekayaan Rp715 triliun setelah sukses mengembangkan model AI hemat biaya yang menyaingi raksasa AS.
11 Oktober 2026

Anwar Ibrahim Tetapkan Upah Minimum Baru Rp8,7 Juta Mulai 2027
Pemerintah Malaysia resmi menaikkan upah minimum nasional dari Rp7,4 juta menjadi Rp8,7 juta per bulan, berlaku Juni 2027, dengan pengecualian bagi UMKM berpendapatan di bawah RM50 juta.
11 Oktober 2026

Prancis dan Jerman Dorong Mekanisme Darurat Perdagangan Hadapi Tekanan Ekonomi Tiongkok
Prancis dan Jerman mengusulkan pembentukan alat perdagangan darurat di Eropa untuk merespons agresi ekonomi Tiongkok dengan akses cepat ke pasar dalam 24 jam.
11 Oktober 2026
Berita Lainnya

Aksi Massal Tuntut Mundur Ketua KPU, Puluhan Ditangkap
Minggu, 11 Oktober 2026, 12.26 WITA

El-Sisi Bertemu Prabowo di Istana, Bahas Kerja Sama Strategis
Minggu, 11 Oktober 2026, 12.26 WITA

Adidas Gugat White Fox atas Desain Garis Empat
Minggu, 11 Oktober 2026, 12.25 WITA

Data Center AI dan Tekanan Air: Tantangan Infrastruktur di Tengah Ekspansi Digital
Minggu, 11 Oktober 2026, 12.25 WITA

Shadow Punisher Usut Kematian Pangeran dalam Konspirasi Istana
Minggu, 11 Oktober 2026, 12.24 WITA

Indonesia Tolak Masuk Artis Dukung Israel
Minggu, 11 Oktober 2026, 12.20 WITA

Bass Persuades Catat Rekor Penurunan Terparah di Billboard 200
Minggu, 11 Oktober 2026, 12.20 WITA

Wali Kota Baru Peru Punya Nama Kontroversial
Minggu, 11 Oktober 2026, 12.06 WITA

