Minggu, 11 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Wali Kota Baru Peru Punya Nama Kontroversial

Seorang pengusaha bernama Hitler Mussolini terpilih sebagai wali kota distrik Queropalca, Huanuco, dengan raihan 229 suara dari total 663 dalam pemilu 4 Oktober.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 11 Oktober 2026, 12.06 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Wali Kota Baru Peru Punya Nama Kontroversial📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Seorang pria bernama Hitler Mussolini Simeon Flores resmi menjabat sebagai wali kota Queropalca, sebuah distrik terpencil di wilayah pegunungan Huanuco, Peru. Ia menggantikan jabatan yang sebelumnya ditempati oleh pejabat lama, dengan masa jabatan dimulai pada 1 Januari 2025. Hasil resmi dari Kantor Nasional Proses Pemilu (ONPE) menunjukkan bahwa ia unggul atas pesaing utamanya, Gaspar Osorio, yang meraih 204 suara, meskipun selisih suara tidak terlalu besar.

Flores, yang berusia 45 tahun, sebelumnya bergerak di bidang angkutan barang dan kini berstatus sebagai kandidat dari partai kiri Ahora Nacion. Ia sempat menjadi anggota Popular Force, partai berhaluan kanan yang dipimpin oleh mantan Presiden Keiko Fujimori, hingga tahun 2025. Keterpilihannya menimbulkan perbincangan publik karena nama depannya yang identik dengan dua tokoh tirani dunia, Adolf Hitler dan Benito Mussolini. Namun, ia tidak pernah mengaitkan dirinya dengan ideologi tersebut dalam kampanye.

Pemilihan ini bukan kali pertama nama Hitler muncul sebagai tokoh politik di Peru. Pada 2021, dokter Hitler Saavedra Casternoque terpilih sebagai anggota parlemen dari partai Somos Peru. Sebelumnya, pada 2018, Hitler Alba Sanchez juga menang sebagai wali kota distrik Yungar di wilayah Andes, yang saat kampanye menyatakan dirinya sebagai "Hitler yang baik", menekankan penolakannya terhadap kekerasan dan menekankan nilai keadilan sosial.

Kemenangan Flores menunjukkan bahwa dalam konteks politik lokal, nama tidak selalu menentukan persepsi publik, terutama di daerah yang minim akses informasi dan lebih fokus pada kinerja konkret. Meski demikian, keberhasilannya menjadi sorotan global, mengingat keunikan nama yang dipakai dan konteks sejarah yang melekat di baliknya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya