Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Operasi Otak Pertama Dunia dengan Bantuan AI Sukses

Pasien asal Inggris berhasil menjalani operasi otak pertama di dunia dengan bantuan kecerdasan buatan untuk mengangkat tumor di kelenjar pituitari tanpa kehilangan penglihatan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 07.47 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Operasi Otak Pertama Dunia dengan Bantuan AI Sukses
Foto: BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Seorang pria berusia 48 tahun dari Inggris, Rhys Hibbert, menjadi orang pertama di dunia yang menjalani operasi otak dengan dukungan sistem kecerdasan buatan (AI) di University College London Hospital. Tumor berukuran 11 mm yang tumbuh pada kelenjar pituitari, organ vital di dasar tengkorak, mulai menekan saraf optiknya, memicu penurunan penglihatan perifer dan gejala seperti pusing berat serta kelelahan kronis. Tanpa intervensi, risiko kebutaan permanen menjadi nyata.

Operasi dilakukan melalui endoskopi yang dimasukkan melalui hidung, memungkinkan akses ke area yang sangat terbatas dan tersembunyi di bawah lapisan tulang dan membran keras. Karena anatomi otak setiap individu unik, identifikasi lokasi aman untuk pengangkatan tumor sangat kompleks. Komplikasi potensial mencakup kerusakan pembuluh darah utama dengan risiko 0,5% hingga 2% dan kegagalan mengangkat seluruh tumor hingga 50%. Di sinilah AI menjadi penentu utama.

Sistem AI yang dikembangkan oleh tim peneliti UCL secara real-time menganalisis tayangan video operasi, melacak pergerakan alat bedah, dan menandai area berisiko tinggi seperti pembuluh darah dan saraf penting. Dengan memanfaatkan ratusan video operasi yang telah dilabeli secara rinci, sistem ini mampu mengenali struktur anatomi kritis yang sering kali tersembunyi dari pandangan langsung. Hasilnya, dokter bisa mengambil keputusan lebih akurat dalam menentukan jalur pengangkatan tumor tanpa mengorbankan fungsi vital.

Hibbert, yang sebelumnya aktif berjalan tiga kilometer tiap istirahat makan siang, menyatakan bahwa operasi ini mengembalikan kualitas hidupnya secara signifikan. Dalam delapan minggu pascaoperasi, penglihatannya membaik secara bertahap, dan energi serta gejala kognitif sebelumnya menghilang. Ia menyebut teknologi ini sebagai “penyelamat hidup” yang memungkinkan dirinya kembali menikmati kehidupan sehari-hari, termasuk membantu istri membuat kopi—kebiasaan kecil yang berarti besar baginya.

Tim peneliti menegaskan bahwa AI bukan pengganti dokter, melainkan alat pendukung yang bekerja secara sinergis dengan keahlian manusia. Mereka berambisi mengembangkan sistem yang mirip ChatGPT untuk ahli bedah, yang bisa memberikan rekomendasi saat dibutuhkan namun tetap tunduk pada keputusan akhir dokter. Teknologi ini didanai oleh National Institute for Health and Care Research dan Google, dan kini sedang dipersiapkan untuk uji coba skala lebih besar. Menteri Inovasi Kesehatan Inggris menyambut baik hasil ini sebagai langkah maju dalam inovasi medis yang aman dan berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya