Pasar Asia Terpuruk Imbas Eskalasi AS-Iran di Selat Hormuz
Bursa saham Asia mengalami penurunan signifikan pada Selasa (1/9/2026) akibat ketegangan geopolitik yang memburuk antara Amerika Serikat dan Iran, memicu kekhawatiran pasar atas stabilitas pasokan energi global.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 10.33 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 10x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pasar keuangan Asia-Pasifik bergerak melemah pada perdagangan Selasa, dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas. Pergerakan negatif terjadi di sejumlah bursa utama, termasuk Nikkei 225 di Jepang yang turun 0,91%, sementara indeks Topix bergerak stagnan. Investor menunjukkan sikap hati-hati menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan global.
Di Korea Selatan, indeks Kospi dan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq sama-sama mengalami penurunan lebih dari 1%, menjadi salah satu pelemahan terbesar di kawasan pada awal sesi. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 juga melemah 0,36%. Tekanan terhadap pasar regional terjadi seiring dengan meningkatnya risiko ekonomi yang terkait dengan ketidakstabilan geopolitik, khususnya di kawasan strategis Selat Hormuz.
Serangan rudal Iran terhadap dua pangkalan udara AS di Yordania pada malam hari menjadi pemicu utama penurunan sentimen pasar. Serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan udara AS terhadap Iran di Pulau Larak, lokasi krusial di Selat Hormuz. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam balas serangan lebih lanjut memperparah ketegangan dan memperkuat kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan eskalasi konflik lebih luas.
Beberapa pejabat senior AS dilaporkan sedang mempertimbangkan serangan terbatas di Selat Hormuz untuk mencegah Iran mengganggu pelayaran kapal-kapal perdagangan. Jalur laut tersebut menjadi fokus utama karena menjadi rute vital bagi pasokan minyak dunia. Setiap gangguan di kawasan ini berpotensi menimbulkan lonjakan harga energi dan memperburuk ketidakpastian di pasar keuangan global.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Supervisor 34 Tahun Cari Kerja Sesuai Pengalaman
Seorang supervisor berusia 34 tahun berjuang menemukan pekerjaan yang sesuai keterampilan setelah kontrak kerja berakhir, dengan pilihan terbatas dan harapan tetap optimistis meski harus memulai dari bawah.
24 Oktober 2026

Nenek 96 Tahun Raih 15 Juta Pengikut, Bantu Biaya Panti Jompo
Nenek asal Connecticut berhasil menutupi biaya tinggal di panti jompo sebesar Rp190 juta per bulan melalui pendapatan dari media sosial.
24 Oktober 2026

<Korea Utara dan Ancaman Invasi: Realitas atau Simulasi Game?>
<Game Call of Duty menggambarkan invasi Korea Utara ke Korea Selatan, yang secara historis pernah terjadi dan kini kembali menjadi perhatian akibat perubahan sikap Pyongyang.>
24 Oktober 2026

Champi Masuki Wilayah China Setelah Guyur Taiwan dan Jepang
Topan Champi melanda China setelah merusak Taiwan dan pulau selatan Jepang, menyebabkan evakuasi massal, pemadaman listrik, dan pembatalan ratusan penerbangan.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

D-8 Dorong Perdamaian Melalui Diplomasi dan Kolaborasi Ekonomi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

Madrasah Harus Jadi Ruang Belajar Inklusif dan Aman Digital
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

PLTS Terapung di Waduk Tembesi Capai 74 Persen Progres
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

OJK Sultra Dorong Inklusi Keuangan Lewat BIK 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

Gubernur Kalteng Tanam Pohon di Lokasi Karhutla Tumbang Nusa
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA

Menteri Tinjau Langsung BSPS di Jakarta Barat
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA
Sulut Juara Umum Kejurnas Pacuan Kuda 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.23 WITA

7 Kebiasaan Sederhana untuk Hidup Lebih Bahagia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.21 WITA

