Minggu, 13 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pemerintah Akselerasi Distribusi Cabai Rawit ke Daerah Harga Tinggi

Badan Pangan Nasional kembali menyiapkan distribusi cabai rawit dari daerah surplus ke wilayah dengan harga melonjak, termasuk Sulawesi Utara yang mencapai Rp152.872 per kg, demi menstabilkan harga dan kendalikan inflasi pangan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 12 September 2026, 19.41 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 8x dibuka
Pemerintah Akselerasi Distribusi Cabai Rawit ke Daerah Harga Tinggi📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah kembali mengaktifkan skema distribusi cabai rawit melalui Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) untuk menangani kenaikan harga di sejumlah wilayah, terutama di Sulawesi Utara yang mencatat harga tertinggi nasional mencapai Rp152.872 per kilogram. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap fluktuasi pasokan yang menimbulkan disparitas harga antar daerah, dengan harga terendah tercatat di Nusa Tenggara Timur sebesar Rp56.604 per kg. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menilai perlu intervensi cepat untuk menyeimbangkan pasokan dan mencegah dampak lanjutan terhadap inflasi pangan.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa pihaknya akan berkoordinasi kembali dengan Kementerian Pertanian untuk menentukan wilayah yang memerlukan bantuan distribusi. FDP akan difokuskan pada daerah dengan harga tinggi, dengan mengalihkan pasokan dari wilayah yang produksinya melimpah dan harganya relatif terjangkau. Petani Champion Cabai yang dibina Kementan akan dilibatkan kembali dalam proses ini, sebagai bagian dari upaya mempercepat penyaluran stok ke lokasi yang membutuhkan.

Sebelumnya, pada triwulan I-2026, FDP cabai rawit berhasil menyalurkan sebanyak 5.590 kilogram, termasuk 3.150 kg dari Enrekang, Sulawesi Selatan, ke Jakarta, serta distribusi ke Lombok Tengah dan Lombok Timur. Program ini terbukti efektif dalam menekan kenaikan harga dan berkontribusi pada penurunan inflasi pangan, khususnya pada komoditas volatil seperti cabai. Kini, pemerintah kembali menggulirkan mekanisme serupa untuk mengantisipasi lonjakan harga menjelang akhir tahun, terutama menjelang periode Natal dan Tahun Baru.

Faktor produksi yang menghambat pasokan mencakup kemarau berkepanjangan, serangan hama seperti trips dan kutu kebul, serta alih tanam petani ke komoditas lain. Namun, Kementan menegaskan bahwa produksi cabai rawit nasional pada bulan September diperkirakan mencapai 119 ribu ton. Sentra produksi utama masih berada di Jawa Timur, seperti Banyuwangi dan Sampang, serta daerah seperti Temanggung, Brebes, dan Magelang yang diproyeksikan mulai panen secara massal. Petani Champion Cabai telah siap mendukung distribusi jika diperlukan, sebagai bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya