Jumat, 18 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Bangkit, Dolar AS Melemah ke Rp17.710

Rupiah menguat 0,21% ke level Rp17.710 per dolar AS pada awal perdagangan Jumat, didorong koreksi indeks dolar global dan dinamika pasar domestik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 18 September 2026, 11.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Bangkit, Dolar AS Melemah ke Rp17.710📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah menunjukkan kekuatan awal di tengah pekan perdagangan terakhir, mampu menguat 0,21% ke posisi Rp17.710 per dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Jumat (18/9/2026). Penguatan ini menjadi respons terhadap penurunan indeks dolar AS (DXY) yang turun tipis 0,01% ke level 100,237 pada pukul 09.00 WIB. Gerakan ini mencerminkan koreksi terbatas setelah rupiah sempat melemah pada sesi sebelumnya, dengan penutupan Kamis di level Rp17.747/US$.

Penurunan dolar AS terjadi setelah kenaikan suku bunga The Federal Reserve yang telah diterapkan, yakni kenaikan 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%, mulai mengalami pelambatan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS menurun, sementara harga minyak mentah kembali menurun seiring masuknya tambahan pasokan minyak dari Arab Saudi melalui Oman, yang mengurangi ketegangan pasar energi. Meski demikian, dolar AS tetap berada di atas level psikologis 100, menunjukkan ketegangan yang belum mereda.

Pergerakan pasar global ini memicu perbedaan ekspektasi antara proyeksi The Fed dan pasar. Pejabat bank sentral memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga tambahan di 2026 dan tidak ada perubahan pada 2027, namun investor justru memproyeksikan lebih dari satu kenaikan hingga akhir tahun ini, serta sekitar tiga kenaikan tambahan hingga akhir 2027. Ketidakselarasan ini menimbulkan potensi volatilitas yang tinggi pada dolar AS dalam waktu dekat.

Di dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada konferensi pers APBN KiTa yang akan diselenggarakan Menteri Keuangan Suahasil Nazara. Acara ini menjadi momen pertama bagi menteri baru tersebut untuk membahas realisasi anggaran hingga Agustus 2026, mencakup penerimaan negara, belanja pemerintah, serta strategi pembiayaan utang. Data ini akan menjadi acuan penting dalam menilai kinerja fiskal pemerintah dan kemampuan menjaga defisit anggaran hingga akhir tahun.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya