Rupiah Melemah di Awal Oktober, Tekanan Inflasi dan Dolar AS Jadi Pemicu
Rupiah dibuka melemah ke level Rp17.885 per dolar AS pada awal Oktober, dipengaruhi ekspektasi inflasi domestik dan kekuatan greenback global.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 23.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pada perdagangan pertama bulan Oktober 2026, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sebesar 0,08% terhadap dolar AS, bergerak ke posisi Rp17.885 per dolar. Pergerakan ini mencatatkan perubahan dari penguatan sebelumnya pada penutupan perdagangan Rabu (30/9/2026), ketika rupiah ditutup di Rp17.870 per dolar. Penurunan ini menunjukkan kembali ketegangan di pasar valuta asing, terutama menyusul harapan terhadap data inflasi yang akan dirilis dalam waktu dekat.
Sentimen pasar kini tertuju pada rilis data inflasi Indonesia bulan September 2026 yang dijadwalkan disampaikan pukul 11.00 WIB. Berdasarkan konsensus dari 12 lembaga dan institusi, perkiraan inflasi bulanan diperkirakan mencapai 0,30%, sedangkan inflasi tahunan diperkirakan naik menjadi 3,30%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan data Agustus yang mencatatkan inflasi 0,21% bulanan dan 3,19% tahunan. Kenaikan harga komoditas utama seperti cabai diperkirakan menjadi salah satu faktor utama pendorong tekanan harga domestik.
Kinerja indeks dolar AS (DXY) juga turut memengaruhi pergerakan rupiah, yang menguat tipis 0,03% ke level 101,482 pada pukul 09.00 WIB. Dolar AS terus berada di sekitar level tertinggi dalam dua bulan terakhir, didukung oleh imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tetap tinggi. Meski data pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS untuk Agustus lebih rendah dari perkiraan—yang mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed—imbal hasil obligasi tenor 10 dan 30 tahun tetap menyentuh rekor baru. Hal ini mencerminkan permintaan terhadap aset berdenominasi dolar yang masih kuat.
Kenaikan imbal hasil AS, ditambah dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memperburuk tekanan inflasi global, menjadikan dolar AS tetap menjadi aset safe haven. Di sisi lain, data inflasi domestik akan menjadi acuan penting bagi Bank Indonesia dalam menentukan kebijakan moneter. Jika inflasi tetap terkendali, ruang untuk kebijakan pelonggaran moneter tetap terbuka. Namun, jika angka lebih tinggi dari perkiraan, BI kemungkinan akan mempertahankan sikap hati-hati dalam menentukan arah suku bunga.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

IHSG Naik Ringan, Short Selling Resmi Beroperasi
Indeks Harga Saham Gabungan bergerak positif pada awal perdagangan, didukung peluncuran skema short selling yang resmi diberlakukan hari ini.
4 Oktober 2026

IHSG Melemah, Saham UNTR dan MORA Unggul
Indeks harga saham gabungan turun 0,83% ke level 6.071,14, didorong pelemahan sektor teknologi dan aksi penjualan asing, sementara emiten seperti UNTR dan MORA menunjukkan kinerja positif.
4 Oktober 2026

United Tractors Realisasi Buyback Rp2 Triliun untuk Stabilkan Pasar
Perseroan siap lakukan pembelian kembali saham senilai maksimal Rp2 triliun untuk menjaga stabilitas pasar dan meningkatkan nilai pemegang saham.
4 Oktober 2026

BEI Pantau Empat Saham Akibat Pergerakan Tak Wajar
Bursa Efek Indonesia memantau empat emiten karena kenaikan harga saham yang tidak wajar dalam periode singkat, termasuk SRSN, RSCH, INDO, dan BSWD, demi menjaga stabilitas pasar dan melindungi investor.
4 Oktober 2026
Berita Lainnya

Prabowo Bahas Strategi Komunikasi Pemerintah dengan Tim Bakom
Minggu, 4 Oktober 2026, 23.30 WITA

Rosan Akan Bahas Langsung Isu Data Center di Jawa Barat
Minggu, 4 Oktober 2026, 23.29 WITA

BRI Pertahankan Status Anggota Yearbook Keberlanjutan Global
Minggu, 4 Oktober 2026, 23.29 WITA

BRI Perkuat Fondasi Keuangan dengan Dana Murah dan Kredit Terkendali
Minggu, 4 Oktober 2026, 23.29 WITA

Garuda Siap Gelar Rights Issue Jumbo untuk Penyehatan Keuangan
Minggu, 4 Oktober 2026, 23.28 WITA

EMAS Cairkan Rp6,5 Triliun untuk Anak Usaha Dorong Operasional Tambang
Minggu, 4 Oktober 2026, 23.28 WITA

Sarmuji Janji Benahi Industri Berbasis Tenaga Kerja
Minggu, 4 Oktober 2026, 23.28 WITA

BSU 2026 Disiapkan, Cairkan Rp900 Ribu untuk 13,3 Juta Pekerja
Minggu, 4 Oktober 2026, 23.27 WITA

