Senin, 5 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah di Awal Oktober, Tekanan Inflasi dan Dolar AS Jadi Pemicu

Rupiah dibuka melemah ke level Rp17.885 per dolar AS pada awal Oktober, dipengaruhi ekspektasi inflasi domestik dan kekuatan greenback global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 23.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melemah di Awal Oktober, Tekanan Inflasi dan Dolar AS Jadi Pemicu📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada perdagangan pertama bulan Oktober 2026, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sebesar 0,08% terhadap dolar AS, bergerak ke posisi Rp17.885 per dolar. Pergerakan ini mencatatkan perubahan dari penguatan sebelumnya pada penutupan perdagangan Rabu (30/9/2026), ketika rupiah ditutup di Rp17.870 per dolar. Penurunan ini menunjukkan kembali ketegangan di pasar valuta asing, terutama menyusul harapan terhadap data inflasi yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Sentimen pasar kini tertuju pada rilis data inflasi Indonesia bulan September 2026 yang dijadwalkan disampaikan pukul 11.00 WIB. Berdasarkan konsensus dari 12 lembaga dan institusi, perkiraan inflasi bulanan diperkirakan mencapai 0,30%, sedangkan inflasi tahunan diperkirakan naik menjadi 3,30%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan data Agustus yang mencatatkan inflasi 0,21% bulanan dan 3,19% tahunan. Kenaikan harga komoditas utama seperti cabai diperkirakan menjadi salah satu faktor utama pendorong tekanan harga domestik.

Kinerja indeks dolar AS (DXY) juga turut memengaruhi pergerakan rupiah, yang menguat tipis 0,03% ke level 101,482 pada pukul 09.00 WIB. Dolar AS terus berada di sekitar level tertinggi dalam dua bulan terakhir, didukung oleh imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tetap tinggi. Meski data pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS untuk Agustus lebih rendah dari perkiraan—yang mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed—imbal hasil obligasi tenor 10 dan 30 tahun tetap menyentuh rekor baru. Hal ini mencerminkan permintaan terhadap aset berdenominasi dolar yang masih kuat.

Kenaikan imbal hasil AS, ditambah dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memperburuk tekanan inflasi global, menjadikan dolar AS tetap menjadi aset safe haven. Di sisi lain, data inflasi domestik akan menjadi acuan penting bagi Bank Indonesia dalam menentukan kebijakan moneter. Jika inflasi tetap terkendali, ruang untuk kebijakan pelonggaran moneter tetap terbuka. Namun, jika angka lebih tinggi dari perkiraan, BI kemungkinan akan mempertahankan sikap hati-hati dalam menentukan arah suku bunga.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya