Rupiah Melemah ke Rp17.892 per Dolar AS Jumat Sore
Rupiah menguat 0,47 persen menjadi Rp17.882 per dolar AS pada perdagangan Jumat sore, dipengaruhi turunnya imbal hasil obligasi AS dan ekspektasi The Fed tidak menaikkan suku bunga.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 21.05 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah pada akhir perdagangan Jumat (2/10) berada di posisi Rp17.882 per dolar AS, menguat 84 poin atau 0,47 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Penguatan ini terjadi di tengah tren penguatan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS, termasuk yuan China yang naik 0,02 persen, peso Filipina 0,39 persen, dan ringgit Malaysia 0,05 persen. Di sisi lain, yen Jepang menguat 0,31 persen, won Korea Selatan 0,77 persen, sementara dolar Singapura menguat 0,16 persen, dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen.
Mata uang utama negara maju juga mayoritas menguat, dengan euro Eropa naik 0,15 persen, poundsterling Inggris 0,12 persen, dolar Australia 0,19 persen, dan franc Swiss 0,37 persen. Hanya dolar Kanada yang mengalami penurunan tipis sebesar 0,02 persen terhadap dolar AS. Penguatan rupiah dan sejumlah mata uang global didorong oleh penurunan imbal hasil obligasi AS, yang mencerminkan penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve dalam pertemuan bulan ini.
Analis DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai sentimen pasar yang berubah terhadap kebijakan moneter AS menjadi pendorong utama penguatan rupiah. Ia menyebut bahwa turunnya imbal hasil obligasi AS mencerminkan ekspektasi pasar yang lebih hati-hati terhadap langkah hawkish The Fed. “Pergerakan rupiah dan mata uang global lainnya secara umum mengikuti tren penurunan imbal hasil obligasi AS, yang menurunkan daya tarik dolar AS,” ujarnya.
Selain faktor eksternal, Lukman menegaskan bahwa intervensi Bank Indonesia (BI) tetap menjadi faktor penopang utama stabilitas rupiah. BI dinilai aktif dalam mengelola pasar valuta asing untuk menjaga nilai tukar yang seimbang. Ia menambahkan bahwa pasar juga sedang menantikan rilis data ketenagakerjaan AS, khususnya nonfarm payrolls (NFP), yang diperkirakan menunjukkan pelemahan dalam penciptaan lapangan kerja.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pemerintah Kaji Pembebasan PPN untuk Outsourcing di Industri Tekstil
Pemerintah mempertimbangkan pembebasan PPN atas jasa outsourcing guna mendukung daya saing industri tekstil yang bergantung pada fluktuasi permintaan ekspor.
2 Oktober 2026

Reshuffle Kabinet Dorong Stabilitas Kebijakan Ekonomi
Pergantian menteri di kabinet Merah Putih menekankan pentingnya kelanjutan kebijakan ekonomi, kepastian regulasi, dan koordinasi antarinstansi bagi dunia usaha.
2 Oktober 2026

GOTO Jelaskan Teknikal Penyebab Volatilitas Saham
GOTO menegaskan fluktuasi harga saham disebabkan faktor teknis setelah tereliminasi dari indeks global, bukan kinerja bisnis, seiring perubahan aturan floor price dan rencana korporasi.
2 Oktober 2026

Merger Asuransi BUMN Rampung Akhir Tahun
Konsolidasi asuransi BUMN akan selesai akhir 2026 dengan penggabungan 15 perusahaan menjadi tiga entitas utama berbasis spesialisasi.
2 Oktober 2026
Berita Lainnya

Data Center Wajib Sesuaikan Ketersediaan Air dan Listrik
Jumat, 2 Oktober 2026, 21.09 WITA

Menteri Perindustrian Baru Diminta Perkuat Daya Saing dan Industri Padat Karya
Jumat, 2 Oktober 2026, 21.09 WITA

Syahganda Nainggolan Pimpin Bakom, Fokus Atasi Dampak Algoritma pada Komunikasi Pemerintah
Jumat, 2 Oktober 2026, 21.08 WITA

Indonesia Jajaki Kerja Sama AS untuk Kembangkan Hidrogen Bersih
Jumat, 2 Oktober 2026, 21.08 WITA

Prabowo Lantik 26 Anggota Wantimpres dan Ganti Kepala Bakom
Jumat, 2 Oktober 2026, 21.08 WITA

Kemenhub Pertimbangkan Kapal Khusus Angkut Mobil Listrik
Jumat, 2 Oktober 2026, 21.07 WITA

Rupiah Melemah ke Rp17.868, Dolar AS Terkoreksi di Tengah Antisipasi Data NFP
Jumat, 2 Oktober 2026, 21.07 WITA

Repo Surat Utang SMI Capai Rp60 Miliar dalam Dua Hari
Jumat, 2 Oktober 2026, 21.07 WITA

