Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp18.110, Tekanan Global dan Domestik Picu Kekhawatiran

Rupiah berakhir melemah 0,39% ke level Rp18.110 per dolar AS, mencatat posisi terlemah sejak awal Juni 2026, didorong tekanan dari pasar global dan dinamika domestik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 26 Oktober 2026, 17.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp18.110, Tekanan Global dan Domestik Picu Kekhawatiran📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kurs rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin (26/10/2026), menunjukkan tekanan berkelanjutan terhadap mata uang nasional. Berdasarkan data Refinitiv, nilai tukar Garuda berada di Rp18.110 per dolar AS, melemah dari posisi penutupan Jumat pekan sebelumnya yang berada di Rp18.040. Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak awal bulan Juni 2026, menandai kembali kenaikan ketegangan di pasar valuta asing dalam empat bulan terakhir.

Pergerakan rupiah menunjukkan kecenderungan melemah sejak pembukaan pasar, saat mata uang domestik berada di level Rp18.050. Tekanan terus berlanjut hingga menyentuh level tertinggi sehari di Rp18.130 sebelum sedikit membaik menjelang penutupan. Meski berhasil memangkas pelemahan hingga 20 poin dari posisi terburuk harian, rupiah tetap berakhir lebih lemah 60 poin dibandingkan pembukaan.

Faktor pendorong pelemahan berasal dari berbagai arah. Di tingkat global, harga minyak dunia mulai mengalami koreksi setelah melonjak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Di sisi lain, pasar domestik tetap memperhatikan perkembangan klasifikasi pasar saham Indonesia yang sedang dalam proses konsultasi oleh MSCI, serta respons bank sentral terhadap volatilitas mata uang.

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa BI tetap aktif memantau pergerakan rupiah. Ia menyatakan bahwa nilai tukar dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan penawaran valuta asing, dan saat ini pihaknya terus mengamati perkembangan pasar secara intensif. "Kita tetap ada di pasar. Ini tergantung supply and demand. Hari ini mungkin lagi... Ya pokoknya tetap kita monitor, kita memantau pergerakannya," ujarnya dalam acara Danantara TIIF 2026.

Meski tidak mengungkapkan penyebab pasti pelemahan hari ini, Destry menekankan bahwa volatilitas yang terjadi masih dalam kategori biasa dan akan terus dipantau untuk menemukan akar penyebabnya. Ia menegaskan bahwa BI tidak mempertimbangkan perubahan strategi intervensi secara mendadak, melainkan tetap fokus pada pemantauan menyeluruh terhadap faktor-faktor pemicu.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya