Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Sedimentasi Ancam Kelangsungan Teluk Kendari

Penumpukan sedimen di Teluk Kendari mempercepat pengurukan, mengancam ekosistem dan ekonomi lokal dengan perkiraan umur teluk tersisa hanya 30 tahun.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 18.21 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Sedimentasi Ancam Kelangsungan Teluk Kendari
Foto: Foto: Bahdin

Kendari, ıNarasikita - Kondisi teluk di Kota Kendari kini mengalami degradasi akibat akumulasi sedimen yang terus meningkat. Data terbaru menunjukkan laju pengurukan mencapai 1,5 meter per dekade, menyebabkan perubahan signifikan dalam ekosistem pesisir. Dengan laju ini, diperkirakan teluk akan kehilangan fungsi alaminya dalam waktu kurang dari tiga dekade, mengancam keberlangsungan budidaya laut dan ekonomi masyarakat pesisir.

Upaya mitigasi yang dilakukan belum mampu menekan laju sedimentasi, terutama karena intensifikasi aktivitas manusia di kawasan hulu. Drainase kota, pembangunan infrastruktur, dan penggundulan hutan di daerah aliran sungai menjadi penyumbang utama material yang terbawa ke laut. Tanpa intervensi serius, ekosistem padang lamun dan terumbu karang yang menjadi fondasi kehidupan laut di wilayah ini diperkirakan akan menghilang dalam waktu dekat.

Pemerintah daerah telah menyadari risiko besar yang mengancam teluk ini, namun implementasi kebijakan pengendalian sedimentasi masih terkendala oleh keterbatasan anggaran dan koordinasi lintas sektor. Beberapa studi menunjukkan bahwa tanpa intervensi, penurunan kualitas air dan kerusakan habitat akan memperparah kemiskinan di komunitas nelayan.

Dengan kondisi saat ini, diperlukan kebijakan strategis yang menyeluruh, mencakup pengelolaan kawasan hulu, rehabilitasi ekosistem pesisir, dan partisipasi aktif masyarakat. Tujuan utamanya adalah memperpanjang umur fungsional teluk hingga minimal 50 tahun, sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi dan lingkungan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya