Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Sekolah Mode Paris yang Tanpa Biaya, Hasilkan Kreativitas Tanpa Batas

École Duperré Paris, sekolah seni negeri di Paris, menawarkan pendidikan gratis dengan fasilitas lengkap dan kurikulum inovatif yang menghasilkan desainer berkelas global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 09.13 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 28x dibuka
Sekolah Mode Paris yang Tanpa Biaya, Hasilkan Kreativitas Tanpa Batas📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - École Duperré Paris, institusi pendidikan seni dan desain bergengsi di ibu kota Prancis, menjadi pusat pengembangan talenta fashion internasional tanpa memungut biaya pendidikan. Dengan dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan Nasional dan pemerintah kota Paris, sekolah ini menawarkan akses terhadap fasilitas modern seperti ruang tenun, bordir, dan produksi kain secara gratis bagi seluruh mahasiswa. Setiap tahun, lebih dari puluhan ribu pelamar bersaing untuk meraih 120 kursi yang tersedia, menunjukkan tingginya minat terhadap pendidikan seni yang berkualitas dan terjangkau.

Kunjungan ke kampus yang berdiri sejak era 1970-an mengungkapkan konsep pendidikan yang mendalam dan berbasis riset. Natacha Lallemand, kepala hubungan internasional sekolah, menekankan bahwa kelulusan mahasiswa ditentukan oleh kemampuan menyelesaikan riset mendalam, minimal 100 halaman tulisan, yang sering kali melibatkan eksplorasi lintas disiplin—bahkan termasuk magang di tempat pengawetan hewan untuk memahami taksedermi sebagai bagian dari inovasi desain. Pendekatan ini menunjukkan bahwa fashion di École Duperré bukan hanya soal jahitan, tetapi juga filosofi, material, dan konteks sosial.

Dalam program Desain Mode dan Lingkungan (DSAA), mahasiswa didorong untuk melampaui batasan tradisional busana. Beberapa di antaranya berasal dari latar belakang desain ruang atau grafis, namun mampu menghasilkan karya visual yang mendalam tanpa harus menjahit. Di jurusan Image Media and Editorial, fashion dilihat sebagai ekspresi kreatif melalui media visual—dari fotografi hingga editorial digital—yang menggambarkan identitas dan narasi sosial melalui lensa seni. Karya-karya yang ditampilkan menunjukkan bahwa mode tidak harus berupa pakaian, tetapi bisa menjadi narasi yang hidup dalam bentuk visual.

Fasilitas yang tersedia—mulai dari mesin tenun tangan hingga gudang benang warna-warni—dikelola secara kolektif dan dapat diakses tanpa biaya. Ketersediaan alat dan ruang produksi ini memungkinkan mahasiswa mengeksplorasi ide secara bebas, dari konsep awal hingga produksi akhir, tanpa hambatan finansial. Keberhasilan para lulusannya dalam ajang seperti JF3 Fashion Festival 2026, yang melibatkan kolaborasi dengan Pintu Incubator dan desainer seperti Aurelien Voegeli, Maurine Willebien, dan Paul Vidal, menjadi bukti nyata bahwa pendidikan seni yang inklusif dan berbasis riset mampu menghasilkan inovasi global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya