Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Spanyol Tuduh Rusia dan Israel Sebarkan Hoaks soal Krisis Migran Ceuta

PM Spanyol Pedro Sanchez menyalahkan Rusia dan Israel atas penyebaran disinformasi terkait gelombang migran ke Ceuta, didukung temuan EEAS dan menegaskan tidak ada keterlibatan Maroko.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 10.35 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 8x dibuka
Spanyol Tuduh Rusia dan Israel Sebarkan Hoaks soal Krisis Migran Ceuta
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez secara tegas mengungkap adanya upaya sengaja menyebarkan narasi menyesatkan terkait insiden migrasi massal ke wilayah Ceuta pada akhir Juli 2026. Ia menunjuk Rusia dan Israel sebagai aktor utama dalam penyebaran hoaks di media sosial, yang menurutnya dirancang untuk memperkeruh situasi politik di Eropa. Penilaian ini didasarkan pada temuan resmi dari Layanan Tindakan Eksternal Uni Eropa (EEAS), yang memetakan pola penyebaran informasi palsu yang terkait erat dengan kedua negara tersebut.

Sanchez menekankan bahwa disinformasi yang beredar sejak 30 dan 31 Juli menyeret isu migrasi sebagai alat politik untuk menyerang pemerintah Spanyol. Ia menilai bahwa narasi-narasi tersebut berasal dari kelompok sayap kanan ultra internasional yang memanfaatkan krisis untuk memecah belah solidaritas Eropa. Insiden tersebut terjadi setelah sekitar 70.000 orang menyeberang dari Maroko ke Ceuta dalam hitungan hari, menyebabkan krisis keamanan dan kesehatan publik yang memicu kekhawatiran lintas benua.

Pemerintah Spanyol menegaskan bahwa tidak ada bukti keterlibatan pihak berwenang Maroko dalam insiden tersebut. Menurut Sanchez, tidak ada laporan dari lembaga intelijen yang bekerja sama dengan Madrid yang menyebutkan adanya koordinasi atau dukungan dari Rabat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi regional dan kepercayaan antar negara, bukan mencari kambing hitam, sebagai kunci menyelesaikan krisis. Sebagai respons, pemerintah berkomitmen menyalurkan dana tambahan sebesar 168 juta euro (sekitar US$ 195 juta atau Rp 3,45 triliun) khusus untuk penanganan kondisi di Ceuta.

Di lapangan, penduduk Ceuta yang tinggal di wilayah seluas 18 kilometer persegi dengan populasi 80.000 jiwa terus menggelar aksi protes menuntut penanganan serius terhadap kondisi keamanan dan sanitasi. Perkiraan jumlah migran yang masih bertahan di wilayah tersebut berkisar antara 3.500 hingga 7.000 orang, termasuk anak-anak, meskipun pihak sayap kanan lokal menyebut jumlahnya mencapai 10.000. Pemerintah juga mengungkap bahwa jaringan perdagangan manusia turut berperan dalam menyebarkan narasi bahwa imigran yang masuk dengan berenang tidak akan dideportasi, yang kemudian dibantah secara resmi.

Sanchez menegaskan bahwa langkah-langkah investigasi akan terus dilanjutkan, sambil menyerukan solidaritas antar negara Eropa dalam menghadapi tantangan migrasi. Ia juga menyoroti konsistensi posisinya yang kritis terhadap kebijakan Israel di Palestina dan intervensi AS ke Iran, yang telah memicu ketegangan dengan mantan Presiden AS Donald Trump. Namun, ia menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Spanyol tetap berlandaskan prinsip keadilan dan kerja sama multilateral.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya