Transaksi Jumbo Rp26 T di Saham BYAN Picu Pergerakan IHSG
Transaksi pasar negosiasi senilai Rp26,1 triliun pada saham BYAN menjadi yang terbesar di sesi I, memengaruhi penurunan IHSG dan menarik perhatian pasar setelah adanya penambahan kepemilikan oleh PT Jhonlin Baratama.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 8 Oktober 2026, 09.16 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Transaksi besar terjadi di pasar negosiasi pada emiten batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dengan nilai mencapai Rp26,10 triliun, menjadi catatan terbesar pada sesi perdagangan pertama hari ini, Rabu (7/10/2026). Pergerakan ini turut memperparah tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berada di zona merah, turun 0,551% atau 34,145 poin ke level 6.158,78 pada akhir sesi I.
Pergerakan signifikan saham BYAN terjadi menyusul informasi terkait penambahan kepemilikan saham oleh PT Jhonlin Baratama, perusahaan milik Andi Syamsuddin Arsyad atau yang dikenal sebagai Haji Isam. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), kepemilikan saham BYAN naik dari 10.000.000.500 menjadi 10.084.088.370 saham biasa melalui Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PJBS) yang telah diperbarui.
Penandatanganan perjanjian awal dilakukan pada 17 September 2026, dan perubahan atas PJBS disahkan pada 1 Oktober 2026, dengan Dato' Low Tuck Kwong dan Elaine Low sebagai penjual, serta PT Jhonlin Baratama sebagai pihak pembeli. Meski nilai transaksi besar, manajemen BYAN menegaskan bahwa kejadian ini tidak membawa dampak negatif material terhadap operasional, hukum, keuangan, maupun kelangsungan usaha perusahaan.
Pada sesi II, harga saham BYAN berada di Rp12.575 per saham, turun 6,51% dari penutupan sebelumnya di Rp13.450. Nilai kapitalisasi pasar emiten tersebut tercatat sebesar Rp419,17 triliun, menunjukkan kenaikan signifikan dalam volume kepemilikan yang berdampak pada dinamika pasar.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Swasta Diperkuat, Hambatan Investasi Diselesaikan Langsung
Pemerintah fokus atasi bottleneck yang menghambat investasi swasta dan perluas akses ekonomi rakyat melalui pendampingan dan kebijakan terintegrasi.
8 Oktober 2026

Pemerintah Siapkan Stimulus Tiket Pesawat Nataru 2026–2027
Pemerintah kembali akan memberikan insentif pajak berupa pembebasan PPN DTP untuk menekan harga tiket pesawat pada periode Natal dan Tahun Baru 2026–2027.
8 Oktober 2026

Pembebasan Bea Masuk Suku Cadang Pesawat Dorong Efisiensi Operasional
Pemerintah berikan insentif bea masuk 0% untuk suku cadang pesawat, berdampak langsung pada penghematan operasional maskapai hingga Rp640 miliar dan industri MRO Rp431 miliar pada 2025.
8 Oktober 2026

BEI Hentikan Sementara Perdagangan Saham POLA dan CSMI
Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara perdagangan saham POLA dan CSMI untuk menstabilkan pasar dan melindungi investor dari volatilitas tinggi.
8 Oktober 2026
Berita Lainnya

Trump Sambut Kerja Sama Militer Turki-Pakistan untuk Arab Saudi
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.18 WITA

UU Perlindungan Ketenagakerjaan Disahkan, Larangan Tahan Ijazah Jadi Sorotan
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.18 WITA

Jaguar Meluncurkan Type 01, Mobil Listrik Mewah dengan Jarak Tempuh 724 Km
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.17 WITA

Harga LPG Subsidi 3 Kg Tetap Stabil di Oktober 2026
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.17 WITA

Investasi Rp3,6 Triliun ke Migas AS, ENRG Perluas Portofolio Global
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.17 WITA

Dana Haji Tetap Stabil, BPKH Tegaskan Tidak Akan Habis 2027
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.17 WITA

Cadangan Devisa Indonesia Tetap Terjaga di Angka US$146,3 Miliar
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.17 WITA

IHSG Melemah di Sesi I, BYAN Jadi Penekan Utama
Kamis, 8 Oktober 2026, 09.16 WITA

