Trump Kelakar Usulkan Nama Selat Hormuz Jadi "Selat Trump
Donald Trump mengeluarkan pernyataan bercanda soal penggantian nama Selat Hormuz menjadi "Selat Trump" saat ketegangan dengan Iran memuncak.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 02.43 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 6x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunjukkan gaya komentarnya yang kontroversial dengan mengusulkan perubahan nama geografis di kawasan strategis. Pernyataan itu disampaikan pada Rabu (2/9), di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik dan militer antara AS dengan Iran. Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat kini menguasai Selat Hormuz secara penuh, menekankan posisi dominan negaranya dalam wilayah tersebut.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks perang simbolik yang kembali memanas, meskipun tidak disertai aksi militer langsung. Namun, penggunaan istilah "menguasai seluruh wilayah" menimbulkan kekhawatiran di kalangan analis geopolitik, karena Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran kunci bagi perdagangan minyak global. Sejumlah negara, termasuk sekutu AS, mempertanyakan implikasi dari pernyataan tersebut terhadap stabilitas maritim internasional.
Trump menggambarkan usulan penggantian nama sebagai bentuk kebanggaan atas kehadiran militer AS di kawasan. Ia menekankan bahwa keberadaan pasukan dan kapal perang AS di Selat Hormuz memberikan jaminan keamanan bagi rute perdagangan. Meski disampaikan dalam nada bercanda, pernyataan itu mencerminkan pendekatan retorika yang menekankan dominasi dan kontrol strategis.
Dalam konteks ini, pernyataan Trump bukan sekadar kelakar, tetapi juga refleksi dari kebijakan luar negeri yang cenderung provokatif dan dramatis. Namun, pihak-pihak yang terlibat dalam diplomasi internasional menilai bahwa pernyataan seperti itu dapat memperburuk ketegangan, terutama di tengah dinamika yang sudah sensitif. Tujuan utama dari pernyataan tersebut tampaknya bukan soal perubahan nama, melainkan untuk menekankan posisi AS sebagai aktor dominan dalam isu keamanan maritim global.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Houthi Negasi Serangan ke Makkah dan Madinah, Sebut Klaim Saudi Bohong
Kelompok Houthi menyangkal tudingan Arab Saudi bahwa rudal mereka menargetkan Makkah dan Madinah, menyebut pernyataan tersebut sebagai kebohongan besar.
25 Oktober 2026

4 Pilot Tewas dalam Tabrakan Pesawat Latih di Filipina
Dua pesawat latih SF-260 Angkatan Udara Filipina bertabrakan saat latihan, menewaskan empat pilot di Pangkalan Udara Fernando, Batangas.
25 Oktober 2026

Supervisor 34 Tahun Cari Kerja Sesuai Pengalaman
Seorang supervisor berusia 34 tahun berjuang menemukan pekerjaan yang sesuai keterampilan setelah kontrak kerja berakhir, dengan pilihan terbatas dan harapan tetap optimistis meski harus memulai dari bawah.
24 Oktober 2026

Nenek 96 Tahun Raih 15 Juta Pengikut, Bantu Biaya Panti Jompo
Nenek asal Connecticut berhasil menutupi biaya tinggal di panti jompo sebesar Rp190 juta per bulan melalui pendapatan dari media sosial.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Transformasi Energi Indonesia Menapaki Jalur Kemandirian
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.30 WITA

Penghapusan Insentif Flat Hemat Rp3 Triliun untuk MBG
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.29 WITA

Lula dan Flavio Bolsonaro Saling Serang di Debat Akhir Pemilu
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.09 WITA

Koneksi Starlink Stabil di Kecepatan 400 km/Jam, Ungkap Menteri Pertahanan Ukraina
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.08 WITA

Penyintas Serangan Gereja Yordania Ungkap Detik-detik Pelaku Arahkan Pistol
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.07 WITA

RI Kurangi Ekspor Gas ke Singapura, Dampaknya Di Bawah 2 Persen
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.07 WITA

Richard Lee: Jangan Lawan Iblis dengan Logika
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

Kanye West Tutup Konser GBK dengan Runaway Emosional
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

