Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Trump Kelakar Usulkan Nama Selat Hormuz Jadi "Selat Trump

Donald Trump mengeluarkan pernyataan bercanda soal penggantian nama Selat Hormuz menjadi "Selat Trump" saat ketegangan dengan Iran memuncak.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 02.43 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Trump Kelakar Usulkan Nama Selat Hormuz Jadi "Selat Trump
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunjukkan gaya komentarnya yang kontroversial dengan mengusulkan perubahan nama geografis di kawasan strategis. Pernyataan itu disampaikan pada Rabu (2/9), di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik dan militer antara AS dengan Iran. Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat kini menguasai Selat Hormuz secara penuh, menekankan posisi dominan negaranya dalam wilayah tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks perang simbolik yang kembali memanas, meskipun tidak disertai aksi militer langsung. Namun, penggunaan istilah "menguasai seluruh wilayah" menimbulkan kekhawatiran di kalangan analis geopolitik, karena Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran kunci bagi perdagangan minyak global. Sejumlah negara, termasuk sekutu AS, mempertanyakan implikasi dari pernyataan tersebut terhadap stabilitas maritim internasional.

Trump menggambarkan usulan penggantian nama sebagai bentuk kebanggaan atas kehadiran militer AS di kawasan. Ia menekankan bahwa keberadaan pasukan dan kapal perang AS di Selat Hormuz memberikan jaminan keamanan bagi rute perdagangan. Meski disampaikan dalam nada bercanda, pernyataan itu mencerminkan pendekatan retorika yang menekankan dominasi dan kontrol strategis.

Dalam konteks ini, pernyataan Trump bukan sekadar kelakar, tetapi juga refleksi dari kebijakan luar negeri yang cenderung provokatif dan dramatis. Namun, pihak-pihak yang terlibat dalam diplomasi internasional menilai bahwa pernyataan seperti itu dapat memperburuk ketegangan, terutama di tengah dinamika yang sudah sensitif. Tujuan utama dari pernyataan tersebut tampaknya bukan soal perubahan nama, melainkan untuk menekankan posisi AS sebagai aktor dominan dalam isu keamanan maritim global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya