Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Trump Pertimbangkan Serangan Terbatas ke Iran

Presiden AS Donald Trump dikabarkan menyiapkan serangan terbatas ke Iran untuk menekan aktivitas militer di Selat Hormuz, menyusul ketegangan berkepanjangan dan pelanggaran kesepakatan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 02.52 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Trump Pertimbangkan Serangan Terbatas ke Iran
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah meninjau kembali opsi militer untuk menyerang Iran, seiring meningkatnya ketegangan di wilayah Selat Hormuz. Dalam pembahasan internal, rencana tersebut disusun oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) dan mendapat dukungan dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Tujuan utamanya adalah membatasi kemampuan Iran dalam melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di jalur pelayaran strategis tersebut.

Pihak Gedung Putih menyatakan bahwa Iran masih berupaya mencapai kesepakatan, tetapi dinilai terlambat dan kekurangan komitmen finansial. Meski belum mencapai tahap perang skala penuh, langkah yang dipertimbangkan berupa serangan terukur yang menargetkan fasilitas rudal dan sistem pertahanan udara Iran. Istilah yang digunakan oleh pejabat militer menggambarkan operasi ini sebagai "memotong rumput", mengacu pada pendekatan bertahap dan terkendali dalam operasi militer.

Serangan terakhir dilakukan AS pada Minggu, menargetkan fasilitas di pulau dekat Selat Hormuz. Iran menanggapi dengan menyerang sasaran militer AS di Timur Tengah, memicu siklus balas dendam. Trump pun kembali menegaskan sikap tegas, menyatakan bahwa AS akan merespons dengan kekuatan besar dan memberikan balasan yang sesuai.

Ketegangan ini berawal dari serangan saling berkepanjangan pada akhir Februari, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta pejabat utama bidang pertahanan. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke Israel dan pangkalan militer AS. Meski sempat terjadi gencatan senjata pada April dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada Juni, AS dinilai sering melanggar kesepakatan tersebut, melemahkan kepercayaan dari pihak Iran.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya