Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Ukraina Ancam Tutup Wilayah Udara Rusia dengan Drone

Presiden Zelensky peringatkan maskapai global soal risiko penerbangan di atas wilayah Rusia akibat ancaman drone, sementara Putin sebut pernyataan itu deklarasi terorisme negara.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 17.51 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Ukraina Ancam Tutup Wilayah Udara Rusia dengan Drone
Foto: Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Presiden Ukraina Vladimir Zelensky secara tegas menyatakan bahwa seluruh ruang udara Rusia kini berada dalam kondisi tidak aman bagi penerbangan sipil. Dalam pernyataan video yang disebar melalui Telegram, ia menekankan bahwa setiap pesawat yang melintas di atas wilayah Rusia, termasuk rute yang melibatkan bandara utama seperti Moskow dan St. Petersburg, berpotensi menjadi sasaran drone militer Ukraina. Ancaman ini dikeluarkan sebagai respons atas terus meningkatnya serangan jarak jauh yang menargetkan infrastruktur strategis dan fasilitas sipil di dalam wilayah Rusia.

Kementerian Pertahanan Ukraina telah memperluas operasi drone ke wilayah yang lebih dalam di dalam Rusia, termasuk area yang sebelumnya dianggap aman. Serangan-serangan tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas bandara, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keselamatan penerbangan komersial. Zelensky menegaskan bahwa langit Rusia kini telah "digelapkan" oleh operasi drone, sehingga tidak lagi layak digunakan oleh penerbangan umum, dan menyerukan agar perusahaan penerbangan, asuransi, serta entitas lain yang terlibat dalam operasi di wilayah tersebut segera mengevaluasi risikonya.

Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin menanggapi ancaman tersebut dengan tegas, menyebut pernyataan Zelensky sebagai "deklarasi terorisme negara". Dalam konferensi pers pada KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai di Bishkek, ia menekankan bahwa tindakan semacam itu menggagalkan upaya diplomasi yang pernah diusulkan. Menurut Putin, negara yang menggunakan kekerasan terhadap sasaran sipil tidak dapat dianggap sebagai mitra dalam perundingan damai, dan klaim Ukraina soal keinginan menyelesaikan konflik secara damai dianggap tidak kredibel.

Dengan tindakan ini, Ukraina menunjukkan strategi baru dalam perang yang meluas ke wilayah udara musuh, sementara Rusia menilai bahwa ancaman semacam itu justru memperkeruh peluang dialog. Kedua belah pihak kini berada dalam posisi saling menolak legitimasi, sementara dunia mengamati dampak dari eskalasi yang menyentuh aspek penerbangan internasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya