Asing Borong 10 Saham Ini Saat IHSG Melemah
Meski indeks turun 0,83%, investor asing justru menunjukkan minat beli terhadap 10 saham unggulan dengan nilai pembelian bersih mencapai miliaran rupiah.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 1 Oktober 2026, 09.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada perdagangan Rabu (30/9/2026), menutup sesi di level 6.071,14 setelah melemah 0,83% atau 50,56 poin. Pergerakan ini terjadi meski awal sesi sempat menunjukkan kecenderungan naik, namun tekanan jual menguat menjelang penutupan. Volume perdagangan tercatat sekitar 30,13 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp14,04 triliun, terjadi sebanyak 1,80 juta kali transaksi.
Di tengah kondisi pasar yang lesu, arus modal asing justru menunjukkan pola beli yang signifikan. Investor asing mencatatkan pembelian bersih (net foreign buy) senilai total Rp777,18 miliar, didorong oleh pembelian sebesar Rp536,70 miliar di pasar reguler dan Rp240,49 miliar di pasar negosiasi serta tunai. Meski demikian, secara keseluruhan, arus keluar dari pasar mencapai Rp1,61 triliun, menunjukkan dominasi penjualan bersih yang cukup besar.
Namun, di tengah tekanan tersebut, terdapat sejumlah emiten yang menjadi incaran asing. Berdasarkan data dari platform analisis pasar, sepuluh saham yang mengalami pembelian bersih terbesar oleh investor asing mencakup PT United Tractors Tbk. (UNTR) dengan nilai Rp81,99 miliar, disusul PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) sebesar Rp65,90 miliar. Sementara itu, saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk. (JARR), PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) juga masuk dalam daftar pembelian terbesar dengan nilai masing-masing mencapai Rp16,26 miliar, Rp13,91 miliar, dan Rp13,62 miliar.
Saham-saham lain yang menjadi pilihan asing antara lain PT Dana Brata Luhur Tbk. (TEBE), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk. (ULTJ), PT Indo Acidatama Tbk. (SRSN), dan PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), dengan nilai pembelian bersih masing-masing berkisar antara Rp12,81 miliar hingga Rp5,67 miliar. Kondisi ini menunjukkan adanya ketertarikan asing terhadap emiten dengan prospek fundamental kuat, meskipun pasar secara umum bergerak melemah.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Kecepatan dan Stabilitas Jadi Kunci Pilihan Aplikasi Perbankan Digital
Survei menunjukkan kecepatan transaksi dan stabilitas sistem jadi faktor utama pengguna memilih aplikasi bank digital, di atas fitur atau kemudahan navigasi.
1 Oktober 2026

Pemerintah Perluas Pajak Gaji Di Bawah Rp10 Juta Ditanggung Tahun Depan
Pemerintah akan memperluas insentif pajak penghasilan yang ditanggung negara mulai 2027, mencakup seluruh pekerja dengan gaji di bawah Rp10 juta di semua sektor.
1 Oktober 2026

Pemerintah Siapkan Paket Stimulus Ekonomi untuk Dorong Daya Beli 2026–2027
Pemerintah sedang menyusun paket stimulus ekonomi besar untuk memperkuat daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan hingga 2027, dengan fokus pada bantuan pangan, subsidi upah, dan insentif perumahan.
1 Oktober 2026

OJK Cabut Izin PT Credit Saison Indonesia Finance
OJK mencabut izin usaha PT Credit Saison Indonesia Finance karena perusahaan dinilai tidak mampu pulih meski diberi waktu perbaikan.
1 Oktober 2026
Berita Lainnya

Produksi Veloz HEV Fokus Pasar Dalam Negeri
Kamis, 1 Oktober 2026, 09.15 WITA

Blokir STNK Setelah Jual Beli Kendaraan Secara Online
Kamis, 1 Oktober 2026, 09.14 WITA

Fenomena Langit Oktober 2026: Saturnus Hingga Meteor Orionid
Kamis, 1 Oktober 2026, 09.06 WITA

Pengusaha Minta RUU Ketenagakerjaan Seimbang, Jaga Daya Saing
Kamis, 1 Oktober 2026, 09.06 WITA

Ledakan Pipa Gas Rusak Tiga Pembangkit Listrik di Suriah
Kamis, 1 Oktober 2026, 09.05 WITA

Pengusaha Logistik Dorong Pertahanan Skema Outsourcing
Kamis, 1 Oktober 2026, 09.05 WITA

Kopilot Flydubai Diduga Serang Kapten, Pesawat Darurat di Tabuk
Kamis, 1 Oktober 2026, 09.05 WITA

Industri Rokok Kretek Soroti Dampak RUU Ketenagakerjaan di Tengah Kontraksi Produksi
Kamis, 1 Oktober 2026, 09.05 WITA

