Kamis, 8 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Harga Telur Jeblok, Peternak Minta Bantuan Stabilisasi Jagung

Peternak ayam petelur di seluruh Indonesia mengeluhkan anjloknya harga telur dan melonjaknya harga jagung, meminta intervensi pemerintah melalui Presiden Prabowo dan Bulog untuk menjamin pasokan pakan dan penyerapan produksi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 8 Oktober 2026, 09.13 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Harga Telur Jeblok, Peternak Minta Bantuan Stabilisasi Jagung📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto menyatakan komitmennya untuk menyampaikan keluhan serius dari peternak ayam petelur kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan bahwa keberhasilan swasembada telur tidak hanya diukur dari produksi, tetapi juga dari kelayakan ekonomi peternak. Dalam rapat dengan Pengurus Pinsar Petelur Nasional (PPN), Titiek menegaskan bahwa kondisi harga telur yang jauh di bawah harga acuan pembelian (HAP) Rp26.500 per kilogram, bahkan menyentuh Rp17.100 pada Juni, telah membuat peternak mengalami kerugian hingga Rp7.000 per kilogram per hari.

Peternak mengeluhkan tekanan ganda: harga jual telur turun, sementara biaya produksi, terutama pakan jagung, terus meningkat. Di Lampung, harga jagung mencapai Rp8.400 per kg, sedangkan di Nusa Tenggara Barat mencapai Rp7.700 per kg. Dengan pasokan yang menipis, sejumlah peternak bahkan terpaksa menutup kandang karena tidak mampu membeli pakan. Seorang peternak perempuan dari Blitar terlihat menangis saat menyampaikan bahwa keluarganya hanya bertahan karena bantuan jagung dari Bulog, yang kini juga tersendat.

Titiek berjanji akan berkoordinasi langsung dengan Menteri Pertanian dan meminta Bulog memperkuat peran dalam menstabilkan harga jagung. Ia menekankan pentingnya rapat terbatas (ratas) antar kementerian untuk mengintegrasikan kebijakan penyerapan telur melalui program pemerintah dan pengendalian harga pakan. Dengan kondisi kemarau panjang dan El Nino yang diproyeksikan berlanjut hingga Februari, kebutuhan jagung peternak diperkirakan mencapai 223 ribu ton dalam lima bulan ke depan.

Namun, realitas pasokan menunjukkan ketidaksesuaian. Meskipun telah disetujui alokasi 150 ribu ton jagung untuk peternak hingga Desember, sisa stok Bulog setelah tahap I dan II program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) hanya sekitar 30 ribu ton. Dari total 500 ribu ton yang dimaksudkan, izin impor hanya disetujui 241 ribu ton, dan 213 ribu ton telah digunakan. Sisa yang tersedia jauh di bawah kebutuhan, membuat peternak khawatir usahanya akan hancur tanpa intervensi segera.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya