Minggu, 20 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Jepang Capai Rekor 107.677 Warga Usia 100 Tahun Lebih

Jepang mencatatkan jumlah penduduk usia 100 tahun ke atas melebihi 100 ribu untuk pertama kalinya, didorong gaya hidup sehat dan kemajuan medis, namun dihadapkan pada krisis demografi akibat kelahiran rendah dan populasi menua.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 20 September 2026, 09.01 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Jepang Capai Rekor 107.677 Warga Usia 100 Tahun Lebih📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Jumlah warga Jepang yang berusia 100 tahun ke atas kini melampaui angka 100 ribu, menurut data resmi dari Kementerian Kesehatan. Angka terbaru menunjukkan 107.677 individu memasuki rentang usia tersebut, menjadikan Jepang negara dengan populasi lansia berusia seratus tahun terbanyak di dunia. Perkembangan ini mencerminkan kemajuan signifikan sejak pertama kali pemerintah mencatatkan orang tua di atas usia seratus tahun pada 1963, saat hanya tercatat 153 orang.

Dari total tersebut, sebanyak 88 persen adalah perempuan, menunjukkan dominasi gender dalam kelompok usia lanjut. Perempuan tertua yang tercatat adalah Kishimoto Fuyo, warga Kyoto yang kini berusia 114 tahun. Sementara laki-laki tertua adalah Kato Hikaru, berusia 112 tahun, tinggal di Kumamoto. Menteri Kesehatan Jepang, Kenichiro Ueno, menyambut pencapaian ini sebagai bukti keberhasilan sistem kesehatan dan gaya hidup yang mendukung kesejahteraan jangka panjang.

Pola makan tradisional Jepang, yang kaya akan ikan, sayuran, dan nasi, serta gaya hidup aktif melalui berjalan kaki, bersepeda, dan penggunaan transportasi umum, dianggap sebagai faktor kunci dalam memperpanjang usia. Berbagai inovasi teknologi juga mulai muncul, seperti alat bantu gerak listrik dan kacamata yang menyesuaikan fokus otomatis, untuk mendukung mobilitas lansia.

Namun di tengah pencapaian tersebut, Jepang menghadapi tantangan serius: penurunan tingkat kelahiran yang mencapai rekor terendah sepanjang sejarah, yaitu 1,14 pada 2025. Proyeksi menunjukkan populasi akan menyusut hingga 87 juta jiwa pada 2070, turun dari puncak 128 juta pada 2008. Hingga kini, 30 persen penduduk berusia 65 tahun ke atas, dan diperkirakan akan mencapai hampir 40 persen dalam empat dekade ke depan.

Pemerintah menyebut kondisi ini sebagai krisis eksistensial, dengan Perdana Menteri Sanae Takichi menyebutnya sebagai ancaman yang muncul secara diam-diam. Meski telah menerapkan berbagai insentif dan program subsidi untuk mendorong kelahiran, hasilnya belum menunjukkan perbaikan signifikan. Alasan kompleks seperti pernikahan yang semakin rendah, biaya pengasuhan anak yang tinggi, serta keberhasilan perempuan dalam dunia kerja menjadi tantangan utama.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya