Rupiah Tertekan, Defisit Transaksi Berjalan Catat Rekor Baru
Rupiah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS seiring membesarnya defisit transaksi berjalan mencapai US$12,5 miliar pada kuartal II-2026.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 1 Oktober 2026, 09.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan intraday, menembus angka Rp18.000 per dolar AS, jauh melampaui asumsi anggaran negara tahun depan yang menetapkan kurs rata-rata di kisaran Rp16.500–Rp16.700. Meskipun terjadi sedikit penguatan pada hari berikutnya, posisi mata uang lokal tetap berada dalam zona kritis, menandai tekanan berkelanjutan terhadap stabilitas nilai tukar.
Faktor utama yang mendorong penurunan rupiah berasal dari pelebaran defisit transaksi berjalan, yang mencapai US$12,5 miliar pada kuartal II-2026—angka tertinggi dalam sejarah pencatatan kuartalan sejak 2004. Angka ini jauh melampaui defisit kuartal sebelumnya yang hanya US$3,6 miliar, dengan kontribusi defisit terbesar berasal dari penurunan surplus neraca dagang barang. Surplus yang sempat mencapai US$8,21 miliar pada kuartal I turun drastis menjadi hanya US$1,32 miliar pada kuartal II, menunjukkan peningkatan impor yang tidak seimbang dengan ekspor.
Peningkatan impor barang mencapai 23,87% menjadi US$72,11 miliar, sementara ekspor hanya naik 10,54% ke level US$73,43 miliar. Perbedaan selisih sebesar US$6,89 miliar menyumbang sekitar 77,31% terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan. Di sisi lain, defisit neraca jasa juga mencatat rekor baru dengan angka US$5,89 miliar, meningkat 34,21% dari kuartal sebelumnya, didorong oleh kenaikan pembayaran jasa luar negeri hingga US$16,76 miliar—naik 17,23%—dengan pendapatan jasa yang hanya tumbuh 9,71% menjadi US$10,87 miliar.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia menegaskan bahwa dinamika nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh kinerja defisit transaksi berjalan. Ia menyampaikan bahwa pergerakan kurs, baik dari sisi volatilitas maupun level, merupakan cerminan dari tekanan struktural dalam neraca pembayaran. Dengan defisit yang terus membengkak, tekanan terhadap rupiah diprediksi akan tetap tinggi, terlebih jika tren impor yang tinggi dan pembayaran jasa luar negeri tidak segera dikendalikan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Kecepatan dan Stabilitas Jadi Kunci Pilihan Aplikasi Perbankan Digital
Survei menunjukkan kecepatan transaksi dan stabilitas sistem jadi faktor utama pengguna memilih aplikasi bank digital, di atas fitur atau kemudahan navigasi.
1 Oktober 2026

Pemerintah Perluas Pajak Gaji Di Bawah Rp10 Juta Ditanggung Tahun Depan
Pemerintah akan memperluas insentif pajak penghasilan yang ditanggung negara mulai 2027, mencakup seluruh pekerja dengan gaji di bawah Rp10 juta di semua sektor.
1 Oktober 2026

Pemerintah Siapkan Paket Stimulus Ekonomi untuk Dorong Daya Beli 2026–2027
Pemerintah sedang menyusun paket stimulus ekonomi besar untuk memperkuat daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan hingga 2027, dengan fokus pada bantuan pangan, subsidi upah, dan insentif perumahan.
1 Oktober 2026

OJK Cabut Izin PT Credit Saison Indonesia Finance
OJK mencabut izin usaha PT Credit Saison Indonesia Finance karena perusahaan dinilai tidak mampu pulih meski diberi waktu perbaikan.
1 Oktober 2026
Berita Lainnya

Produksi Veloz HEV Fokus Pasar Dalam Negeri
Kamis, 1 Oktober 2026, 09.15 WITA

Blokir STNK Setelah Jual Beli Kendaraan Secara Online
Kamis, 1 Oktober 2026, 09.14 WITA

Fenomena Langit Oktober 2026: Saturnus Hingga Meteor Orionid
Kamis, 1 Oktober 2026, 09.06 WITA

Pengusaha Minta RUU Ketenagakerjaan Seimbang, Jaga Daya Saing
Kamis, 1 Oktober 2026, 09.06 WITA

Ledakan Pipa Gas Rusak Tiga Pembangkit Listrik di Suriah
Kamis, 1 Oktober 2026, 09.05 WITA

Pengusaha Logistik Dorong Pertahanan Skema Outsourcing
Kamis, 1 Oktober 2026, 09.05 WITA

Kopilot Flydubai Diduga Serang Kapten, Pesawat Darurat di Tabuk
Kamis, 1 Oktober 2026, 09.05 WITA

Industri Rokok Kretek Soroti Dampak RUU Ketenagakerjaan di Tengah Kontraksi Produksi
Kamis, 1 Oktober 2026, 09.05 WITA

