Kamis, 1 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Tertekan, Defisit Transaksi Berjalan Catat Rekor Baru

Rupiah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS seiring membesarnya defisit transaksi berjalan mencapai US$12,5 miliar pada kuartal II-2026.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 1 Oktober 2026, 09.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Rupiah Tertekan, Defisit Transaksi Berjalan Catat Rekor Baru📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan intraday, menembus angka Rp18.000 per dolar AS, jauh melampaui asumsi anggaran negara tahun depan yang menetapkan kurs rata-rata di kisaran Rp16.500–Rp16.700. Meskipun terjadi sedikit penguatan pada hari berikutnya, posisi mata uang lokal tetap berada dalam zona kritis, menandai tekanan berkelanjutan terhadap stabilitas nilai tukar.

Faktor utama yang mendorong penurunan rupiah berasal dari pelebaran defisit transaksi berjalan, yang mencapai US$12,5 miliar pada kuartal II-2026—angka tertinggi dalam sejarah pencatatan kuartalan sejak 2004. Angka ini jauh melampaui defisit kuartal sebelumnya yang hanya US$3,6 miliar, dengan kontribusi defisit terbesar berasal dari penurunan surplus neraca dagang barang. Surplus yang sempat mencapai US$8,21 miliar pada kuartal I turun drastis menjadi hanya US$1,32 miliar pada kuartal II, menunjukkan peningkatan impor yang tidak seimbang dengan ekspor.

Peningkatan impor barang mencapai 23,87% menjadi US$72,11 miliar, sementara ekspor hanya naik 10,54% ke level US$73,43 miliar. Perbedaan selisih sebesar US$6,89 miliar menyumbang sekitar 77,31% terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan. Di sisi lain, defisit neraca jasa juga mencatat rekor baru dengan angka US$5,89 miliar, meningkat 34,21% dari kuartal sebelumnya, didorong oleh kenaikan pembayaran jasa luar negeri hingga US$16,76 miliar—naik 17,23%—dengan pendapatan jasa yang hanya tumbuh 9,71% menjadi US$10,87 miliar.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia menegaskan bahwa dinamika nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh kinerja defisit transaksi berjalan. Ia menyampaikan bahwa pergerakan kurs, baik dari sisi volatilitas maupun level, merupakan cerminan dari tekanan struktural dalam neraca pembayaran. Dengan defisit yang terus membengkak, tekanan terhadap rupiah diprediksi akan tetap tinggi, terlebih jika tren impor yang tinggi dan pembayaran jasa luar negeri tidak segera dikendalikan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya