Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Xi Jinping dan Trump Bertemu di Washington, Tantangan Dagang dan Iran Jadi Sorotan

Pertemuan puncak antara Xi Jinping dan Donald Trump di Gedung Putih pada September 2026 diantisipasi dengan ekspektasi rendah, menyoroti ketegangan ekonomi dan geopolitik, terutama terkait Iran dan sanksi sekunder yang mengancam hubungan dagang.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 09.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Xi Jinping dan Trump Bertemu di Washington, Tantangan Dagang dan Iran Jadi Sorotan
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan menyambut kunjungan resmi Presiden China Xi Jinping ke Gedung Putih pada 24 September 2026 dalam pertemuan tingkat tinggi yang diharapkan mampu menstabilkan hubungan bilateral yang memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Meski dijadwalkan sebagai momen bersejarah, sejumlah analis memperkirakan hasil pertemuan tidak akan membawa perubahan mendasar, karena kedua belah pihak lebih fokus pada pengelolaan ketegangan daripada menyelesaikan konflik struktural.

Isu konflik Iran menjadi salah satu agenda utama, menyusul rencana AS untuk memperluas sanksi sekunder terhadap entitas yang terlibat dalam aktivitas finansial Iran. Langkah ini berpotensi menyeret China sebagai mitra dagang utama Teheran, yang menjadi kunci dalam penerapan kebijakan isolasi ekonomi. Namun, pengamat menilai bahwa isu tersebut tidak akan menjadi pusat pembicaraan, melainkan alat untuk mengukur kompromi politik antara dua kekuatan global.

Pertemuan ini juga akan membahas isu teknologi, khususnya kecerdasan buatan, yang menjadi area persaingan strategis. Meski AS menegaskan adanya kesamaan visi dalam beberapa isu, seperti kebijakan perdagangan dan stabilitas regional, menteri keuangan AS Scott Bessent menekankan bahwa China memiliki peran sentral dalam menyelesaikan krisis Iran. Di sisi lain, China menjadi satu-satunya negara dalam forum G20 yang menolak pernyataan bersama yang menyentuh isu tersebut, menunjukkan ketegangan yang belum terselesaikan.

Dalam konteks politik dalam negeri AS yang menuju pemilu paruh waktu, kebijakan eksternal Trump dinilai akan cenderung konservatif dan terkendali. Para ahli seperti Taiyi Sun dari Christopher Newport University menilai bahwa ancaman sanksi terhadap institusi keuangan China akan dihindari demi menjaga stabilitas sistem keuangan global. Prediksi serupa disampaikan Craig Singleton dari Foundation for Defense of Democracies, yang menyatakan bahwa Washington lebih mungkin memilih negosiasi tertutup daripada tindakan provokatif menjelang pertemuan puncak.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya