LPRA Siap Jalankan Reforma Agraria di Bawah Kendali Presiden
Lembaga Penyelenggaraan Reforma Agraria (LPRA) bakal berdiri sebagai lembaga khusus di bawah Presiden untuk koordinasi nasional penyelesaian konflik pertanahan.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 22 September 2026, 15.25 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Lembaga Penyelenggaraan Reforma Agraria (LPRA) mulai mengemuka sebagai wadah strategis dalam pelaksanaan reforma agraria di tingkat nasional. Badan ini dirancang berada di bawah kendali langsung Presiden untuk memastikan koordinasi lintas sektor dan penyelesaian konflik pertanahan secara menyeluruh. Rencana pembentukannya diwujudkan sebagai implementasi dari amanat Undang-Undang tentang Pengaturan Reforma Agraria yang telah disahkan.
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) akan mengalami perubahan struktural menyusul berdirinya LPRA. Beberapa direktorat dalam kementerian tersebut diproyeksikan akan dipindahkan atau dilebur ke dalam lembaga baru. Proses ini menandai transformasi sistematis dalam tata kelola tanah, terutama dalam penanganan konflik yang bersifat kompleks dan lintas kepentingan.
Pembagian tugas antara ATR/BPN dan LPRA dibedakan berdasarkan karakter persoalan. Masalah pertanahan yang melibatkan individu dan berkaitan dengan aspek administratif, seperti sertifikasi atau pendaftaran tanah, tetap menjadi tanggung jawab ATR/BPN. Sebaliknya, konflik yang bersifat komunal—seperti sengketa antara masyarakat adat dengan korporasi, BUMN, atau pemerintah—akan dikelola oleh LPRA sebagai mediator utama.
Menurut pejabat terkait, pendekatan berbeda ini dimaksudkan untuk mempercepat penyelesaian tanpa mengabaikan keadilan dan konsistensi hukum. LPRA diharapkan menjadi mekanisme yang lebih responsif terhadap dinamika sosial di lapangan, khususnya dalam konteks penguasaan tanah yang melibatkan kepentingan kolektif. Dengan struktur yang jelas, lembaga ini diharapkan mampu menjaga stabilitas sosial sekaligus mendorong keberlanjutan pembangunan berkelanjutan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Dunia Belum Konsisten, Indonesia Tetap Jalan ke Net Zero
Menteri ESDM menegaskan konsistensi Indonesia dalam komitmen transisi energi meski sejumlah negara maju belum menjalankan kesepakatan Paris Agreement secara utuh.
22 September 2026

7 Kelompok Bersenjata Ethiopia Bentuk Aliansi untuk Gulingkan Pemerintah
Tujuh kelompok bersenjata di Ethiopia membentuk aliansi baru dengan tujuan menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri Abiy Ahmed dan membangun pemerintahan transisi berbasis dialog nasional.
22 September 2026

Prabowo Bahas Inovasi Tekstil dan Sepatu di Rapat Terbatas
Presiden Prabowo memimpin rapat terbatas di Istana membahas pengembangan industri tekstil dan sepatu dengan fokus pada inovasi berbasis limbah dan teknologi cerdas.
22 September 2026

Media AS Boykot Liputan Gedung Putih Akibat Larangan Trump
Lima jaringan televisi utama Amerika Serikat memutuskan memboikot liputan langsung dari Gedung Putih sebagai protes atas pelarangan terhadap tiga media besar, termasuk CNN, yang dilarang masuk dan mengakibatkan acara resmi tanpa suara dan siaran langsung.
22 September 2026
Berita Lainnya

Sindikat SIM Palsu di Riau Beroperasi Sejak Juni 2026
Selasa, 22 September 2026, 15.39 WITA

Xiaomi Siap Masuki Pasar Mobil Listrik Indonesia
Selasa, 22 September 2026, 15.39 WITA

Subsidi Tak Pasti, Penjualan Motor Listrik 2026 Terhambat
Selasa, 22 September 2026, 15.39 WITA

Biaya Impor iPhone 18 Pro dan Duo dari Luar Negeri Terungkap
Selasa, 22 September 2026, 15.31 WITA

Penindakan Massal Beras dan Garam Ilegal di Empat Wilayah
Selasa, 22 September 2026, 15.30 WITA

Prioritaskan UMKM dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam
Selasa, 22 September 2026, 15.30 WITA

Amran Minta Hukuman Berat untuk Pelaku Penyelundupan Beras Impor
Selasa, 22 September 2026, 15.30 WITA

Tiga ASN Pertanian Tewas di Papua Tanpa Pengawalan
Selasa, 22 September 2026, 15.30 WITA

